SIDRAP, HBK — Persoalan sampah kembali menjadi sorotan warga di Kabupaten Sidrap.

Tumpukan sampah rumah tangga terlihat memenuhi sejumlah titik di kawasan Jalan Pengairan, khususnya di Kompleks BTN Karza dan sekitarnya, Kelurahan Lakessi, Kecamatan Maritengngae.

Warga mengeluhkan lambannya pengangkutan sampah oleh petugas kebersihan.

Akibatnya, sampah yang biasanya diangkut secara rutin setiap dua hari sekali kini menumpuk hingga lebih dari sepekan dan mulai menimbulkan bau busuk yang menyengat.

Pengakuan warga, kantong-kantong sampah rumah tangga terlihat menumpuk di depan rumah masing-masing.

Kondisi tersebut semakin memprihatinkan karena terjadi di tengah musim hujan yang belakangan ini hampir setiap hari mengguyur wilayah Sidrap.

Salah seorang warga BTN Karza, Mustari, mengaku prihatin dengan kondisi yang terjadi.

Menurutnya, persoalan sampah yang tidak segera ditangani berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan bagi masyarakat sekitar.

“Biasanya petugas datang rutin mengangkut sampah setiap dua hari. Tapi sekarang sudah sekitar satu minggu tidak diangkut, sehingga sampah menumpuk dan mengeluarkan bau yang sangat menyengat,” ujar Mustari, Sabtu (13/6/2026).

Ia menilai kondisi tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan warga, tetapi juga dapat memicu munculnya berbagai penyakit akibat berkembangnya lalat, nyamuk, dan bakteri di sekitar tumpukan sampah.

Apalagi, kata dia, hujan yang terus turun membuat sebagian sampah basah dan mengeluarkan aroma tidak sedap yang semakin terasa hingga ke lingkungan permukiman.

“Kalau hujan turun, baunya semakin menyengat. Kami khawatir dampaknya terhadap kesehatan anak-anak dan warga sekitar. Jangan sampai nanti muncul penyakit karena sampah terlalu lama dibiarkan menumpuk,” katanya.

Mustari berharap pemerintah daerah melalui instansi terkait segera mengambil langkah cepat agar pengangkutan sampah kembali berjalan normal seperti sebelumnya.

Menurutnya, kebersihan lingkungan merupakan bagian penting dari upaya mewujudkan Sidrap yang sehat, nyaman, dan bebas dari persoalan lingkungan.

Ia juga mengaitkan persoalan tersebut dengan visi pembangunan yang selama ini digaungkan Pemerintah Kabupaten Sidrap di bawah kepemimpinan Bupati H. Syaharuddin Alrif, yang menempatkan kebersihan lingkungan sebagai salah satu perhatian utama.

“Kami mendukung program pemerintah daerah yang ingin menjadikan Sidrap lebih bersih dan tertata. Karena itu kami berharap persoalan sampah ini segera mendapat perhatian agar tidak berlarut-larut,” tambahnya.

Selain menimbulkan bau tidak sedap, warga juga khawatir tumpukan sampah yang dibiarkan terlalu lama dapat menyumbat saluran drainase ketika hujan deras terjadi.

Kondisi tersebut berpotensi memicu genangan air bahkan banjir di sejumlah titik permukiman.

Warga berharap Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan maupun pihak terkait dapat segera turun melakukan pengangkutan sampah serta memberikan penjelasan mengenai penyebab terhambatnya layanan pengangkutan dalam beberapa hari terakhir.

Persoalan sampah memang sering dianggap masalah sederhana, padahal dampaknya sangat besar terhadap kualitas hidup masyarakat.

Ketika sistem pengangkutan sampah tidak berjalan normal, dampaknya langsung dirasakan warga, mulai dari bau menyengat, gangguan kesehatan, hingga ancaman pencemaran lingkungan.

Keluhan warga BTN Karza dan kawasan Jalan Pengairan menjadi alarm penting bagi pemerintah daerah untuk memastikan pelayanan dasar kebersihan tetap berjalan optimal.

Terlebih saat ini Sidrap tengah mendorong berbagai program penataan kota, kebersihan lingkungan, dan pencegahan banjir.

Penanganan sampah yang cepat dan konsisten bukan hanya soal menjaga estetika kota, tetapi juga bagian dari upaya melindungi kesehatan masyarakat.

Karena itu, respons cepat dari instansi terkait menjadi hal yang sangat dinantikan warga agar tumpukan sampah yang sudah sepekan menggunung tidak semakin memperburuk kondisi lingkungan di kawasan tersebut. (Arya)