BARRU,HBK – Hari berganti bulan dan tahun, namun aktivitas usaha, bongkar muat barang, maupun pergerakan penumpang di Pelabuhan Awerangnge, Desa Batupute, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, terlihat terus menurun. Kondisi ini teramati pada Kamis (11/6/2026).
“Tidak seperti kondisi dulu, Pak,saat ini kewenangan dan tanggung jawab pengelolaan terminal Pelabuhan Awerangnge berada di bawah Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi Selatan,karena situasi yang sepi ini, tugas kami di sini sebatas melakukan pengawasan dan menjaga keselamatan pelayaran saja,” ungkap Muzakkir, salah satu ASN Kementerian Perhubungan Laut, saat ditemui di kantornya pada waktu yang sama.
Dia menjelaskan bahwa perubahan sistem pelayanan turut mengubah suasana di pelabuhan tersebut.
“Kini tidak ada lagi calo maupun pengurus jasa penumpang di pelabuhan, mulai dari pembelian tiket hingga pengurusan dokumen kapal semuanya sudah menggunakan sistem daring dan kode batang,hampir seluruh transaksi dilakukan secara non-tunai,satu-satunya yang masih beroperasi secara konvensional adalah Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM),” jelasnya.

Selanjutnya,Muzakkir mengakui jumlah petugas di lingkungan Pelabuhan Awerangnge sangat terbatas.
“Saat ini kami hanya berjumlah tujuh orang, yang terdiri dari empat orang Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) dan tiga orang ASN Kementerian Perhubungan Laut,” terangnya.
Kemudian pantauan awak media Fajar pada Kamis (11/6/2026) di lokasi menunjukkan hanya ada dua unit kapal motor yang bersandar di dermaga.
Sementara itu, gedung terminal penumpang terlihat terkunci rapat dan tidak ada tanda-tanda aktivitas penumpang maupun bongkar muat barang.

- Operasional Kapal Pelni Terbatas
Dijelaskan Muzakkir, untuk layanan angkutan laut milik Pelni, yakni KM Binaiyya, sebelumnya beroperasi enam kali dalam sebulan,namun, dalam beberapa bulan terakhir frekuensinya berkurang menjadi hanya dua kali sebulan,bahkan saat ini, kapal tersebut sedang dalam masa perawatan rutin (docking) di Semarang.
“Saat ini tidak ada layanan pelayaran Pelni karena kapalnya sedang diperbaiki. Sebelumnya, jadwal kedatangan dan keberangkatan KM Binaiyya dilakukan setiap Kamis malam,” tambahnya.
Kapal Pelni tersebut melayani rute Awerangnge–Bontang dengan waktu tempuh sekitar 24 jam, tarif tiketnya berkisar di atas Rp 200.000 per orang.
Sementara itu, kapal motor kayu yang beroperasi secara swadaya umumnya mengangkut bahan pokok dari Awerangnge ke Bontang,dalam perjalanan pulang, kapal-kapal tersebut biasanya membawa muatan rumput laut yang banyak dibutuhkan pengusaha dari daerah Bone dan Parepare.(Arl)




Tinggalkan Balasan