SIDRAP, HBK — Program Studi Magister Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang kembali menggelar Seminar Hasil Tesis mahasiswa pada Selasa, 19 Mei 2026.
Kegiatan akademik tersebut berlangsung di Lantai 2 Rektorat Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang dan diikuti oleh mahasiswa atas nama Muzammil sebagai peserta seminar.
Dalam seminar tersebut, Muzammil mempresentasikan tesis berjudul “Implementasi Kurikulum Merdeka Pasca Penghentian Program Sekolah Penggerak di SMP Negeri 2 Baranti: Tantangan dan Transformasi Pembelajaran.”
Seminar hasil ini merupakan salah satu tahapan akademik yang wajib ditempuh mahasiswa guna memperoleh gelar Magister Administrasi Publik (M.A.P.).
Tim penguji pada seminar hasil tersebut terdiri atas Dr. Andi Sinrang, M,Si. Dr. Andi Nilwana, SE, M.Si. Prof. Dr. H. Jamaluddin, S.Sos., M.Si. Dr. Ahmad Mustanir, M.Si. dan Dr. Nuraini K, M.Pd.
Dalam pemaparannya, Muzammil menjelaskan bahwa pendidikan merupakan instrumen strategis dalam pembangunan bangsa karena berperan penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Menurutnya, pendidikan tidak hanya menjadi sarana transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga media pembentukan karakter, penguatan kompetensi, dan peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi tantangan global.
Ia menambahkan, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan globalisasi pada abad ke-21 menuntut sistem pendidikan untuk mampu melahirkan peserta didik yang kritis, kreatif, komunikatif, kolaboratif, serta memiliki karakter yang kuat.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah melakukan berbagai reformasi pendidikan, termasuk melalui penerapan Kurikulum Merdeka.
“Perubahan pendidikan merupakan proses yang kompleks karena melibatkan perubahan budaya organisasi, pola pikir, perilaku guru, hingga sistem pembelajaran secara menyeluruh,” jelas Muzammil saat mempresentasikan hasil penelitiannya.
Penelitian tersebut bertujuan untuk menganalisis implementasi Kurikulum Merdeka pasca penghentian Program Sekolah Penggerak di SMP Negeri 2 Baranti, mengidentifikasi tantangan implementasi, serta menganalisis transformasi pembelajaran guru dan siswa.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka di SMP Negeri 2 Baranti tetap berjalan meskipun Program Sekolah Penggerak telah dihentikan. Komunikasi kebijakan dilakukan melalui komunitas belajar guru, rapat internal sekolah, serta pemanfaatan Platform Merdeka Mengajar,” ungkapnya.
Namun demikian, penelitian juga menemukan sejumlah kendala, di antaranya keterbatasan infrastruktur teknologi, akses internet, serta kompetensi digital guru yang belum merata. Meski begitu, guru menunjukkan respons positif terhadap penerapan Kurikulum Merdeka karena dinilai mampu menciptakan proses pembelajaran yang lebih fleksibel, aktif, dan kontekstual.
Selain itu, implementasi Kurikulum Merdeka dinilai turut mendorong transformasi pembelajaran melalui peningkatan refleksi kritis guru, penerapan pembelajaran berbasis proyek, hingga meningkatnya partisipasi aktif siswa dalam proses belajar mengajar.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Muzammil merekomendasikan penguatan komunitas belajar guru, pelatihan berkelanjutan, serta peningkatan infrastruktur teknologi guna mendukung keberlanjutan implementasi Kurikulum Merdeka, khususnya di sekolah semi-urban.
Sementara itu, Ketua Program Studi Magister Administrasi Publik Dr. Andi Nilwana menyampaikan bahwa setelah seminar hasil, mahasiswa masih akan menghadapi satu tahapan akhir, yakni ujian tutup tesis.
Ia berharap Muzammil dapat fokus menyelesaikan seluruh tahapan akademik agar segera meraih gelar Magister Administrasi Publik.
“Semoga cepat selesai. Kalau betul-betul gerak cepat, saya kira satu sampai dua minggu sudah bisa ujian tutup,” ujarnya.
DrAndi Nilwana juga berharap hasil penelitian tersebut dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan kebijakan pendidikan, khususnya terkait implementasi Kurikulum Merdeka di daerah. (Arya)




Tinggalkan Balasan