SIDRAP, HBK – Keberadaan Wahana Dinosaurus yang telah beroperasi selama kurang lebih satu bulan di kawasan Pelataran Monumen Ganggawa, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), mulai menuai keluhan dari sejumlah warga.

Selain dinilai terlalu lama menempati area ruang publik, wahana tersebut juga disebut-sebut mengganggu kelancaran lalu lintas serta mengurangi fungsi kawasan Monumen Ganggawa sebagai tempat rekreasi, olahraga, dan pelaksanaan berbagai kegiatan masyarakat.

Wahana yang mulai beroperasi sejak Mei 2026 itu menempati sebagian besar area pelataran monumen. Kondisi tersebut membuat sejumlah warga menilai wajah kawasan yang selama ini menjadi ikon kota Sidrap menjadi terlihat semrawut dan kurang tertata.

Keluhan juga datang dari para pengguna jalan yang setiap hari melintas di sekitar kawasan Masjid Agung Pangkajene dan Stadion Ganggawa. Mereka mengaku arus kendaraan sering tersendat, terutama saat jam kunjungan dan ketika berlangsung kegiatan besar di stadion.

“Sudah terlalu lama. Kalau ada event di stadion, kendaraan semakin padat. Pelataran monumen yang biasanya digunakan warga untuk bersantai dan berolahraga jadi terasa sempit. Ruang publik seharusnya tetap menjadi prioritas,” ujar Herman, salah seorang warga Sidrap.

Selain persoalan lalu lintas, harga tiket masuk wahana juga menjadi sorotan. Sejumlah pengunjung mengaku terkejut setelah mengetahui tarif masuk mencapai Rp40 ribu per orang.

Menurut mereka, harga tersebut cukup memberatkan bagi sebagian masyarakat yang ingin membawa seluruh anggota keluarga untuk berkunjung.

“Kalau satu keluarga datang, tentu biayanya lumayan besar. Banyak yang berharap ada tarif yang lebih terjangkau agar bisa dinikmati semua kalangan,” ungkap salah seorang pengunjung.

Di sisi lain, sejumlah warga berharap Pemerintah Kabupaten Sidrap melakukan evaluasi terhadap keberadaan wahana tersebut, termasuk mempertimbangkan durasi penggunaan lokasi yang merupakan salah satu ruang publik utama di daerah itu.

Mereka menilai kawasan Monumen Ganggawa memiliki fungsi strategis sebagai pusat aktivitas masyarakat dan lokasi penyelenggaraan berbagai agenda daerah. Karena itu, pemanfaatannya diharapkan tetap memperhatikan aspek kenyamanan publik, estetika kota, serta kelancaran pelaksanaan kegiatan-kegiatan besar yang telah terjadwal.

Beberapa kalangan bahkan menyoroti potensi gangguan terhadap pelaksanaan event olahraga dan pendidikan yang dipusatkan di kawasan Stadion Ganggawa, seperti Sidrap Cup maupun agenda Porsenijar PGRI yang akan datang.

Warga berharap pemerintah dapat mencari titik keseimbangan antara pemanfaatan ruang publik untuk kegiatan komersial dan kepentingan masyarakat luas, sehingga kawasan Monumen Ganggawa tetap menjadi ruang yang nyaman, tertata, dan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. (Arya/*)