SIDRAP, HBK — Ancaman kemarau dan keterbatasan pasokan air tak membuat aktivitas pertanian di Desa Takkalasi, Kecamatan Maritengngae, Kabupaten Sidrap, berhenti.

Di tengah kondisi tersebut, hamparan sawah tetap produktif setelah petani memanfaatkan program Listrik Masuk Sawah yang menjadi salah satu program unggulan Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif.

Program ini menjadi solusi bagi petani, terutama pada areal persawahan yang selama ini menghadapi keterbatasan sumber air saat musim kemarau. Kehadiran jaringan listrik memungkinkan sumur bor dan pompa air dioperasikan dengan lebih mudah untuk memenuhi kebutuhan pengairan.

Ketua Gapoktan Mappasitujue, Mahmuddin, mengakui program tersebut memberikan dampak langsung terhadap keberlangsungan pertanian di Takkalasi.

“Kalau tidak ada bantuan listrik masuk sawah, mungkin sudah mati semua sawahnya orang di sini,” kata Mahmuddin.

Menurut dia, sebenarnya telah tersedia sejumlah sumur bor di kawasan persawahan. Namun, keberadaannya sebelumnya belum dapat dimanfaatkan secara maksimal karena terkendala akses jaringan listrik.

“Sebenarnya banyak sumur bor di sini, tapi tidak ada jaringan listriknya. Jadi untungnya ada inovasi ini, listrik masuk sawah,” ujarnya.

Kini kondisinya berbeda. Jaringan listrik yang masuk hingga kawasan pertanian membuat petani dapat mengoperasikan pompa dengan sistem yang lebih praktis.

“Sudah mudah sekarang. Tinggal isi voucher listrik sesuai kebutuhan, air langsung keluar,” tambah Mahmuddin.

Program Listrik Masuk Sawah di Sidrap merupakan bagian dari kolaborasi Pemerintah Kabupaten Sidrap di bawah kepemimpinan Bupati Syaharuddin Alrif bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Kementerian Pertanian, serta PT PLN (Persero).

Di kawasan persawahan Takkalasi terdapat sekitar 30 titik tiang listrik yang menunjang pengoperasian pompa air. Air yang bersumber dari sumur bor selanjutnya dialirkan melalui jaringan pipa menuju areal persawahan.

Setiap titik disebut mampu mendukung pengairan sekitar empat hingga lima hektare lahan, sehingga keberadaan jaringan listrik menjadi salah satu penopang petani dalam menjaga ketersediaan air di tengah musim kemarau.

Produktivitas Naik Jadi 10,4 Ton per Hektare

Dampak penguatan sarana pertanian tersebut juga terlihat dari produktivitas petani.

Hasil panen di Desa Takkalasi disebut mampu mencapai sekitar 10,4 ton gabah per hektare, meningkat dibandingkan produksi sebelumnya yang berada pada kisaran tujuh ton per hektare.

Desa Takkalasi memiliki areal persawahan sekitar 395,80 hektare yang dikelola oleh 13 kelompok tani. Dengan luasan tersebut, sektor pertanian menjadi salah satu penopang utama aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

Ketersediaan air juga membuka peluang bagi petani untuk mengoptimalkan pola tanam IP300, yakni tiga kali tanam dalam satu tahun.

Jika produktivitas 10,4 ton per hektare dapat dipertahankan, maka dalam satu kali musim panen potensi produksi dari lahan seluas 395,80 hektare mencapai sekitar 4.116 ton gabah.

Dengan asumsi harga gabah sekitar Rp7.500 hingga Rp7.600 per kilogram, nilai produksi kotor dalam sekali musim panen berpotensi berada pada kisaran Rp30,87 miliar hingga Rp31,28 miliar.

Apabila seluruh areal tersebut mampu mempertahankan tiga kali panen dalam setahun dengan tingkat produktivitas yang sama, potensi nilai produksi gabah secara matematis dapat mencapai sekitar Rp92,6 miliar hingga Rp93,8 miliar per tahun.

Angka tersebut merupakan estimasi nilai produksi kotor berdasarkan luas lahan, produktivitas dan asumsi harga gabah, sehingga belum memperhitungkan biaya produksi maupun kemungkinan perubahan hasil panen dan harga di tingkat petani.

Kades: Sangat Membantu Petani

Kepala Desa Takkalasi, Sudarmin, mengatakan manfaat program Listrik Masuk Sawah sangat dirasakan masyarakat, terutama dalam mempertahankan produktivitas ketika pasokan air berkurang.

“Bantuan listrik masuk sawah ini sangat bermanfaat dan semakin meningkatkan produktivitas hasil panen petani,” kata Sudarmin.

Keberadaan listrik di kawasan pertanian pada akhirnya tidak sekadar menghadirkan infrastruktur energi. Bagi petani, listrik menjadi sumber tenaga untuk menggerakkan pompa, mengoptimalkan pemanfaatan sumur bor, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap air permukaan saat kemarau.

Program tersebut juga memperlihatkan bagaimana intervensi infrastruktur dapat bersentuhan langsung dengan kebutuhan produksi petani. Ketika akses listrik dan sumber air tersedia, petani memiliki peluang lebih besar mempertahankan musim tanam sekaligus meningkatkan indeks pertanaman.

Di tengah ancaman kemarau, kondisi persawahan Takkalasi menjadi salah satu gambaran dampak program tersebut. Sawah tetap mendapatkan pasokan air, aktivitas budidaya terus berlangsung, dan peluang mempertahankan tiga kali musim tanam dalam setahun semakin terbuka.

Bagi masyarakat Takkalasi, Listrik Masuk Sawah bukan sekadar menghadirkan tiang dan jaringan listrik di tengah persawahan. Program ini menjadi salah satu penopang agar pompa terus bekerja, sawah tetap mendapat air, panen berlanjut, dan roda ekonomi petani tetap bergerak di tengah tantangan musim kemarau. (Ady)