BARRJ,HBK – Angin siang menyapu hamparan lokasi Sekolah Rakyat (SR) Lawallu di Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru. Di tengah deretan bangunan yang mulai terlihat megah namun belum sepenuhnya rampung, ada napas kesibukan yang berpadu dengan tantangan nyata. PT Waskita Karya memang telah memberikan lampu hijau agar sejumlah gedung mulai dimanfaatkan untuk kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), namun dua fasilitas krusial asrama siswa dan asrama tenaga pendidik masih berdiri belum tuntas. Lebih dari itu, ada hal mendasar yang menjadi perhatian: ketersediaan air bersih.
Pembangunan di lokasi strategis ini terus digenjot meski masa kontrak kerjanya kerap diperpanjang. Ironisnya, di sisa pengerjaan yang ada, justru muncul kendala yang tak disangka-sangka. Tidak ditemukannya sumber air bersih di dalam lingkungan sekolah memaksa para pengelola mencari jalan keluar lain. Bahkan, ada fenomena unik di kalangan siswa, sekitar 12 hingga 15 orang rata-rata jenjang SMP, yang kerap ingin pulang ke rumah. Bukan karena tidak betah, melainkan karena mereka merindukan kebiasaan bermain gim di ponsel sesuatu yang memang dilarang penggunaannya di lingkungan asrama sekolah ini.
Air Bersih: Urat Nadi yang Masih Menanti
Ketersediaan air bersih menjadi prioritas utama yang menjadi tantangan besar bagi PT Waskita Karya maupun pengelola sekolah. Selama seminggu terakhir, kebutuhan air sepenuhnya bergantung pada pasokan dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Barru.
Ahsan Jafar, Direktur PDAM Barru, menjelaskan situasi tersebut saat ditemui di kantornya, Jumat (14/8/2026). “Air ini berasal dari IPA Mangkoso dan IPA Batubessi,” ungkapnya. Pasokan ini bukan datang sendirian; ada kerja sama antarlembaga yang bergerak mengisi kekosongan. Armada tangki dari BPBPK Sulsel, DLH, PMI, Damkar, BPBD, dan PAM turun tangan. Sebanyak 10 tangki setiap harinya melayani kebutuhan di SR Lawallu dan wilayah lain yang terdampak kekeringan. Selama ini, pelayanan air bersih tersebut diberikan secara cuma-cuma sebagai bentuk fungsi sosial dan pelayanan publik sejak 30 Juli lalu. Namun Ahsan menegaskan, urusan pembangunan jaringan perpipaan sepenuhnya ranah proyek, sedangkan PDAM hanya menyambungkan aliran air yang nantinya akan dihitung layaknya pelanggan biasa.

Fokus Operasional di Tengah Keterbatasan
Di sisi lain, Kepala Sekolah SR Lawallu, Haris, tampak tenang namun tetap teguh memantapkan langkah operasional sekolah. Ditemui di kantornya sehari kemudian, ia menegaskan bahwa urusan infrastruktur termasuk pengadaan air bersih masih menjadi tanggung jawab penuh kontraktor PT Waskita Karya karena pengerjaannya belum selesai.
“Tugas kami saat ini adalah memastikan roda pendidikan berjalan lancar. Mulai dari kegiatan MPLS, penyusunan kurikulum, hingga kesiapan tenaga pengajar,” jelas Haris. Ia juga memaparkan kehati-hatian pihaknya dalam pengadaan barang habis pakai seperti alat tulis. Pembelian langsung dilakukan di toko umum Kota Parepare maupun Makassar, mengikuti saran instansi pengawas agar terhindar dari praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).
Di bawah bimbingannya, SR Lawallu kini menaungi 440 siswa-siswi yang terdiri dari 140 murid SD, 210 siswa SMP, dan 94 siswa SMA. Sebagian di antaranya datang dari kabupaten tetangga. Pola pendidikannya pun khas: mengadopsi kurikulum Kemendikdasmen, ditambah dengan sistem pengasramaan yang ketat serta kegiatan ekstrakurikuler seperti Kempo dan Karate di sore hingga malam hari.
Harapan di Balik Galian Baru
Sementara itu, di lokasi sekolah mulai terlihat pergerakan yang menyiratkan solusi. Warga sekitar melaporkan telah ada penggalian sedalam satu meter di pinggir Jalan Poros Negara Desa Lawallu. Rahmat, Ketua Bumdes Lawallu, membenarkan hal tersebut.
“Terlihat ada ekskavator yang bekerja menggali jalur pipa. Ada yang menyebutkan akan disambungkan ke sumber air di Dusun Oring, ada juga yang mengarah ke jaringan PAM Mangkoso,” ujarnya penuh harap. Hal senada disampaikan Ibnu, pekerja kontrak di lokasi proyek. Ia menyebutkan bahwa upaya pengeboran di dalam area sekolah tidak membuahkan hasil yang memenuhi standar, sehingga pasokan lewat tangki air PDAM menjadi penopang utama setiap harinya.
Di tengah debu pembangunan dan keterbatasan sumber daya, Sekolah Rakyat Lawallu tetap berdiri sebagai mercusuar harapan pendidikan di wilayah itu. Meski air bersih belum mengalir lewat pipa permanen, semangat para siswa dan keteguhan pengelola sekolah menjadi bukti bahwa tantangan tak lantas memadamkan cita-cita besar yang dibangun di atas hamparan tanah Lawallu ini.(Ril)





Tinggalkan Balasan