BARRU,HBK – Kepala Desa Nepo, Muhammad Toaha, menghadiri sekaligus menjadi pebicara utama dalam kegiatan Kemah Literasi yang diinisiasi oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare. Kegiatan yang mengusung tema “Eksplorasi Budaya dan Potensi Pariwisata Desa Nepo” di kawasan wisata alam Bujung Mattimboe, Desa Nepo, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru, pada Sabtu (16/5/2026).

Dalam memaparkan materinya, Muhammad Toaha mengulas dua substansi krusial yang menjadi fondasi identitas desa, yaitu legitimasi sejarah Nepo dan proyeksi akselerasi sektor pariwisata lokal.

Mengisi Missing Link Sejarah Kerajaan Nepo Pasca-Tragedi Kebakaran Saoraja:

Dalam pemaparan sejarah, Muhammad Toaha menjelaskan bahwa Nepo memiliki akar historiografi yang kuat sebagai salah satu eks-kedatuan atau kerajaan lokal yang disegani di kawasan Ajatappareng. Namun, beliau tidak menampik adanya tantangan besar dalam pembuktian dokumen tertulis akibat tragedi masa lalu.

Secara historis, validitas sejarah Desa Nepo mengalami missing link atau terputusnya rantai informasi kronologis. Hal ini terjadi lantaran peristiwa terbakarnya Bola Saoraja (Istana Kerajaan Nepo) di masa lampau. Insiden memilukan tersebut turut menghanguskan dokumen-dokumen penting, termasuk manuskrip kuno dan Lontara asli yang menyimpan catatan silsilah, hukum adat, serta perjalanan diplomasi politik Kerajaan Nepo.

“Nepo adalah peradaban yang besar, namun kita harus jujur bahwa ada bagian sejarah kita yang terputus akibat terbakarnya Bola Saoraja terdahulu. Di sinilah pentingnya peran literasi. Kita tidak boleh menyerah pada hilangnya dokumen fisik, melainkan harus bergerak mencari sumber sekunder yang valid secara ilmiah,” ungkap Muhammad Toaha di hadapan para peserta.

Eksplorasi Pariwisata dan Komitmen Sinergi Berkelanjutan:

Selain faktor sejarah, Kepala Desa Nepo juga membedah potensi pariwisata yang tengah menggeliat di desanya. Desa Nepo dinilai memiliki daya tarik unik, berkat lanskap alam pedesaan, beliau siap mendorong pemuda desa untuk mengemas potensi ini melalui konsep Eco-Tourism (wisata berwawasan lingkungan).

Siap Gandeng Praktisi dan Akademisi Lintas Sektor:

Menyadari bahwa rekonstruksi sejarah dan pengelolaan wisata memerlukan pendekatan yang matang, Muhammad Toaha menyatakan komitmennya untuk membawa pembahasan ini ke tingkat yang lebih serius dan terukur.

“Kami tidak ingin forum ini berhenti sebatas seremonial KKN semata. Ke depan, secara serius kami akan memfasilitasi pertemuan antara praktisi kepariwisataan dan akademisi. Kita butuh kolaborasi nyata untuk mengkaji ulang literatur sejarah Nepo yang tersisa, sekaligus merumuskan masterplan pariwisata yang matang agar pembangunan di Desa Nepo berjalan berbasis data dan ilmiah,” pungkasnya.

Kegiatan Kemah Literasi ini pun berjalan interaktif dan mendapat respons positif dari civitas akademika IAIN Parepare serta tokoh masyarakat setempat.(Ari/Ril)