BARRU,HBK – Kegiatan pemuatan (loading) dan keberangkatan kapal motor (KM) Awu-Awu di Pelabuhan Fery Garongkong, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan,mendapat keluhan dari para pengguna jasa.

Proses pemuatan yang terlambat tersebut memicu kekecewaan sehingga membuat sejumlah penumpang dan pengusaha jasa logistik bakal memilih serta berencana mengalihkan perjalanannya ke pelabuhan lain.

Adanya hal tersebut mendaoat tanggapan pihak otoritas pelabuhan dengan memberikan penjelasan terkait prosedur keselamatan yang menjadi prioritas utama di balik jeda waktu keberangkatan tersebut.

Seorang Perwira Jaga KPLP Pelabuhan Garongkong, inisial HS mengatakan bahwa pihak Syahbandar sama sekali tidak bermaksud memperlambat proses keluarnya Surat Izin Berlayar.

Dia menjelaskan,ada empat faktor krusial yang wajib dipenuhi sebelum kapal diizinkan lepas sandar:
1.Istirahat Mesin: Mengingat rute pelayaran yang jauh, mesin kapal wajib diistirahatkan minimal selama 6 jam untuk menjaga performa teknis.

2.Faktor Cuaca: Kondisi alam menjadi pertimbangan tertinggi demi menjamin keselamatan pelayaran dan nyawa penumpang.

3.Verifikasi Dokumen: Penelitian dokumen kapal dilakukan secara ketat guna memastikan legalitas operasional.

4.Kondisi Pasang Surut: Pihak otoritas harus menyesuaikan jadwal dengan situasi pasang surut air laut di pelabuhan tujuan agar kapal dapat bersandar dengan aman.

“Kami dari pihak Syahbandar sama sekali tidak memperlambat, akan tetapi ada faktor-faktor teknis dan keselamatan yang tidak bisa ditawar sebelum SIB dikeluarkan, “jelasnya di Pelabuhan Garongkong, Sabtu (11/4/2026).

Berdasarkan data manifes terbaru, KM Awu-Awu tercatat mengangkut 240 orang termasuk kru kapal. Untuk muatan kendaraan, terpantau sebanyak 17 unit mobil dalam keadaan kosong, sementara kendaraan bermuatan lainnya telah disesuaikan dengan kapasitas ambang batas (tutup poin) yang diizinkan.

Di samping itu Supervisor Bisnis Penyebrangan ASDP Pelabuhan Garongkong, Dada Sudrajat, menjelaskan bahwa keluhan yang muncul kemungkinan disebabkan oleh kurangnya pemahaman pengguna jasa terhadap Standard Operating Procedure (SOP) pelayaran.

Dada Sudrajat yang baru bertugas di Garongkong setelah pindah tugas dari Selayar ini, mengungkap bahwa di bawah komandonya kondisi operasional mulai berangsur normal.

“Terdapat beberapa hal yang harus dipenuhi sebelum kapal diberangkatkan dan sejak kami bertugas,Alhamdulillah situasi sudah mulai membaik dan kembali normal, “jelas putra asli daerah Sumedang tersebut saat ditemui di kantornya.

“Sebagai solusi jangka panjang untuk mengoptimalkan layanan di lintasan Garongkong – Batulicin, Dada Sudrajat memaparkan rencana besar terkait penyegaran armada.

“Kemudian dalam waktu dekat, KM Awu-Awu direncanakan akan berpindah tugas ke lintasan Bira – Pamatata (Cabang Selayar). Sebagai penggantinya, KMP Dalente akan dikerahkan untuk melayani rute Garongkong menuju Batulicin, ” tandasnya.

“Adanya pergantian armada ini diharapkan dapat menjawab ekspektasi para pengguna jasa akan layanan penyeberangan yang lebih efisien dan tepat waktu di Pelabuhan Garongkong, ” tutup Dada Sudrajat.(Ahk/Ril)