BARRU, HBK – Harapan panjang warga Dusun Pakka, Desa Nepo, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru, akhirnya terrwujud, pada Rabu, 4 Maret 2026, sebuah jembatan gantung yang selama ini dinanti resmi digunakan,guna membuka akses yang lebih aman bagi hampir 200 kepala keluarga yang bergantung pada jalur tersebut setiap hari.
Kegiatan peresmian berlangsung khidmat dan penuh kehangatan. Hadir dalam kegiatan itu Kapolda Sulawesi Selatan, Irjen Pol. Djuhandhani Rahardjo Puro, S.H., M.H. beserta pejabat utama Polda Sulsel, Kabid Humas, dan Kabid Propam. Turut hadir Bupati dan Wakil Bupati Barru, Komandan Satuan Brimob Polda Sulsel, Komandan Batalion B Pelopor Satuan Brimob Polda Sulsel, Camat Mallusetasi, serta Kepala Desa Nepo bersama para kepala dusun, RT, dan masyarakat setempat.
Asapun jembatan gantung tersebut dibangun selama 40 hari oleh personel Brimob Polda Sulsel, dibantu prajurit TNI dan masyarakat Dusun Pakka.

Proses pengerjaan dilakukan secara gotong royong, menyusuri jalur yang hanya bisa ditempuh menggunakan sepeda motor. Akses menuju dusun ini memang terbatas, sehingga mobilitas orang maupun distribusi material harus dilakukan dengan perhitungan matang.
Kepala Desa Nepo, Muhammad Toaha. Dalam sambutannya Rabu 4 Maret 2026 menyampaikan rasa terima kasih mewakili seluruh warga. Ia menegaskan bahwa jembatan ini bukan sekadar infrastruktur, melainkan urat nadi kehidupan masyarakat Dusun Pakka.
“Selama ini, inilah satu-satunya akses warga untuk membawa hasil panen seperti jagung dan padi ke pasar, sekaligus membeli kebutuhan sehari-hari. Di dusun ini ada hampir 200 kepala keluarga, juga terdapat sekolah dasar. Anak-anak kami setiap hari melintasi jalur ini,” ungkapnya.
Pitung panggilan akrab Kepala Desa Nepo menambahkan, jembatan tersebut juga menjadi jalur logistik penting, termasuk untuk mendukung pembangunan dan distribusi kebutuhan dapur MBG di wilayah tersebut. Dengan akses yang lebih kokoh, distribusi bahan dan perlengkapan dapat berjalan lebih lancar.

Menurutnya sebelum dibangun secara permanen, jembatan itu hanya berupa susunan kayu sederhana yang kerap diperbaiki seadanya. Ketika musim hujan datang dan debit sungai meningkat, kayu-kayu tersebut mudah hanyut terbawa arus. Risiko kecelakaan dan warga terseret arus menjadi kekhawatiran yang terus membayangi.
Kini, dengan berdirinya jembatan gantung yang lebih kuat, akses distribusi hasil pertanian menjadi lebih terjamin, aktivitas pendidikan lebih aman, dan jalur logistik termasuk untuk kebutuhan mendesak lebih tertata.
Peresmian ini menjadi simbol sinergi antara aparat kepolisian, TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat. Di atas bentangan jembatan yang kini menghubungkan dua sisi sungai itu, tersimpan harapan baru bagi Dusun Pakka—tentang keselamatan, dan kelancaran akses.(Ari/Ril)









Tinggalkan Balasan