SIDRAP, HBK — Mahasiswa Program Studi Pendidikan Vokasional Seni Kuliner Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang (UMS Rappang) kembali menunjukkan kapasitasnya di dunia praktik.

Melalui unit usaha laboratorium kampus, Brillent Bakery, mereka sukses memproduksi 5.000 pieces roti dalam satu siklus pesanan besar.

Proyek tersebut menjadi ajang pembuktian profesionalisme sekaligus penguatan karakter kewirausahaan mahasiswa.

Ketua Unit Produksi Brillent Bakery, Fauziah Rasyid, mengatakan pesanan dalam jumlah besar itu menjadi pengalaman belajar yang komprehensif bagi seluruh tim.

Mahasiswa tidak hanya dituntut menyelesaikan produksi, tetapi juga memahami seluruh rantai proses bisnis.

“Banyak hal yang kami pelajari. Mulai dari membagi tim kerja sesuai peran dan tanggung jawab, menyusun rencana belanja dan pengadaan bahan baku, menghitung biaya produksi dan operasional, hingga menentukan target produksi harian agar pesanan selesai tepat waktu,” ujar Fauziah.

Ia menjelaskan, produksi massal menjadi tantangan tersendiri. Selain aspek manajerial, mahasiswa juga harus menjaga konsistensi kualitas dan standar produk dalam jumlah besar.

“Tantangan terbesar ada pada menjaga kualitas tetap seragam. Itu yang benar-benar melatih ketelitian dan kekompakan tim,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Program Studi Pendidikan Vokasional Seni Kuliner UMS Rappang, Damayanti Trisnasari, S.Pd., M.Pd., menegaskan pembelajaran berbasis produksi (Production Based Education) memang dirancang agar mahasiswa terjun langsung dalam praktik bisnis nyata.

“Mereka tidak hanya belajar mengikuti instruksi, tetapi juga dilatih berani mengambil keputusan, membangun komunikasi tim yang efektif, serta memecahkan masalah yang muncul selama proses produksi,” kata Damayanti.

Menurutnya, keberanian mengambil keputusan menjadi poin krusial dalam proyek tersebut. Mahasiswa dituntut responsif terhadap kendala teknis maupun nonteknis dan mampu menentukan langkah strategis secara cepat dan tepat.

“Orderan besar ini kami jadikan peluang pembelajaran. Mahasiswa belajar menyesuaikan kemampuan dengan fasilitas laboratorium dan tetap menyelesaikan tanggung jawab meski beban cukup berat,” jelasnya.

Keberhasilan menyelesaikan 5.000 roti itu bukan sekadar capaian angka. Lebih dari itu, proyek tersebut menjadi representasi tumbuhnya profesionalisme, kepemimpinan, dan mental entrepreneur mahasiswa yang siap bersaing di industri makanan dan minuman. (Arya)