🔥 BERITA TERKINI SULAWESI SELATAN | Sidrap
Informasi terbaru dari HarianBeritaKota.com untuk wilayah Sulsel dan Indonesia.

“Bupati Sidrap Siapkan Irigasi Air Tanah dan Listrik Masuk Sawah”

SIDRAP, HBK — Di tengah ancaman kekeringan yang melanda sejumlah areal persawahan, kabar baik datang dari Lingkungan Patommo, Kelurahan Arawa, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidrap.

Sejumlah petani di wilayah tersebut masih mampu melakukan panen meski musim kemarau membuat ketersediaan air untuk pertanian semakin terbatas.

Kondisi itu turut mendapat perhatian langsung dari Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, yang turun meninjau kegiatan panen sekaligus melihat kondisi lahan pertanian yang terdampak kekeringan, Rabu (2/9/2026).

Di hadapan petani, Syaharuddin menyebut Kelurahan Arawa memiliki sekitar 500 hektare areal persawahan yang tersebar di dua lingkungan, yakni Bojoe dan Patommo.

Namun, tidak seluruh lahan dapat bertahan dari dampak kemarau.

“Di Kelurahan Arawa ada dua lingkungan, Bojoe dan Patommo. Dari sekitar 500 hektare, alhamdulillah masih ada yang berhasil dipanen,” ujar Syaharuddin.

Menurutnya, sekitar 125 hektare lahan di wilayah tersebut mengalami kondisi kekeringan yang cukup memprihatinkan.

Meski demikian, sebagian areal lainnya masih mampu menghasilkan panen. Hal tersebut menjadi harapan tersendiri bagi petani di tengah ancaman penurunan produksi akibat terbatasnya pasokan air.

Syaharuddin mengatakan kondisi tersebut tidak terlepas dari dampak musim kemarau dan fenomena El Niño yang menyebabkan ketersediaan air untuk lahan pertanian menurun.

Bendung Ada, Air Menurun

Pemkab Sidrap sebelumnya telah berupaya memperkuat sistem pengairan pertanian melalui dukungan pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Dukungan tersebut antara lain melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), serta bantuan dari Pemerintah Provinsi Sulsel.

Syaharuddin juga menyinggung pembangunan Bendung Alekaraja yang telah dikerjakan pada tahun sebelumnya dengan anggaran sekitar Rp9 miliar.

Namun, panjangnya musim kemarau membuat debit air kembali menurun secara drastis.

“Memang dampak kemarau dan El Nino, akhirnya bendungannya tidak ada airnya lagi,” katanya.

Kondisi tersebut menjadi evaluasi bagi pemerintah daerah untuk menyiapkan langkah mitigasi yang lebih permanen.

Irigasi Air Tanah hingga Listrik Masuk Sawah

Menghadapi kondisi tersebut, Pemkab Sidrap menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi kekeringan pada musim tanam berikutnya.

Syaharuddin mengatakan pemerintah daerah akan mendorong penambahan jaringan irigasi air tanah sekaligus memperluas program listrik masuk sawah.

“Insyaallah untuk panen berikutnya, saya akan minta jaringan irigasi air tanah ditambah, termasuk program listrik masuk sawah. Upaya ini akan kita lakukan sebagai langkah mitigasi agar kondisi seperti ini tidak terjadi lagi,” tegasnya.

Ia menambahkan, wilayah yang mengalami kekeringan akan menjadi perhatian khusus pemerintah daerah.

Pemetaan kondisi lahan dan mitigasi akan dilakukan lebih serius, terutama di Lingkungan Patommo dan wilayah lain yang memiliki tingkat kerawanan kekeringan.

Langkah tersebut diharapkan tidak hanya menjadi solusi saat kekeringan terjadi, tetapi juga memperkuat ketahanan air sektor pertanian Sidrap dalam menghadapi perubahan kondisi iklim.

Dari 6 Ton Naik Jadi 9 Ton

Di tengah kondisi tersebut, Abdul Rasid, salah seorang pemilik sawah yang tengah melakukan panen, mengaku bersyukur masih dapat memperoleh hasil.

Menariknya, produksi padinya justru mengalami peningkatan dibandingkan panen sebelumnya.

Jika sebelumnya hasil panen berada di kisaran 6 ton, pada panen kali ini produksinya mencapai sekitar 9 ton.

“Alhamdulillah, sebelumnya sekitar 6 ton, sekarang bisa mencapai 9 ton,” ujar Rasid.

Hasil tersebut menjadi angin segar bagi petani di tengah ancaman kekeringan yang membayangi sejumlah areal persawahan.

Pemerintah Kabupaten Sidrap berharap penguatan infrastruktur pengairan, irigasi air tanah, serta program listrik masuk sawah dapat menjaga produktivitas pertanian sekaligus memberikan kepastian bagi petani menghadapi musim kemarau.

Dengan langkah mitigasi tersebut, pemerintah menargetkan persoalan kekeringan tidak kembali menjadi hambatan serius terhadap produksi pangan dan kesejahteraan petani di Kabupaten Sidrap. (Arya)