Informasi terbaru dari HarianBeritaKota.com untuk wilayah Sulsel dan Indonesia.
SIDRAP, HBK β Sebulan mungkin terlalu singkat untuk mengukur seluruh kinerja sebuah satuan kepolisian. Namun, dalam perang melawan narkotika, 30 hari bisa memperlihatkan satu hal penting: seberapa cepat sebuah tim bergerak membaca situasi, memburu pelaku, dan memutus mata rantai peredaran barang haram.
Itulah yang tergambar dari catatan satu bulan pertama AKP Andri Kurniawan
, STK., S.H., S.I.K., memimpin Satuan Reserse Narkoba (Satnarkoba) Polres Sidrap.
Dalam kurun waktu sekitar satu bulan, Satnarkoba Polres Sidrap mencatat 38 tersangka dalam perkara narkotika.
Tak hanya itu, polisi juga mengamankan 88 gram sabu-sabu dan 167 butir ekstasi dari sejumlah pengungkapan.
Angka tersebut tentu bukan sekadar statistik.
Di balik setiap gram sabu dan setiap butir ekstasi yang diamankan, ada potensi penyalahgunaan yang berhasil dihentikan. Ada transaksi yang diputus. Ada peredaran yang digagalkan sebelum barang haram tersebut semakin jauh menjangkau masyarakat.
Dan di balik 38 tersangka, ada sebuah tim yang bekerja dari hulu hingga hilir: mengumpulkan informasi, melakukan pemetaan, penyelidikan, penangkapan, pemeriksaan barang bukti hingga mengembangkan perkara.
Karena itu, capaian satu bulan tersebut tidak semata-mata menjadi rapor seorang Kasat.
Ini adalah catatan kerja sebuah tim yang sedang menunjukkan ritmenya.
Kasat Baru, Ritme Baru
AKP Andri Kurniawan datang ke Sidrap dengan pengalaman di bidang reserse.
Sebelum dipercaya memimpin Satnarkoba Polres Sidrap, ia pernah menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Makassar.
Perwira kelahiran Surabaya tersebut merupakan lulusan Akpol 2015.
Pengalaman sebagai polisi reserse menjadi modal penting ketika harus menghadapi perkara narkotika yang memiliki karakter berbeda dengan tindak pidana konvensional.
Narkotika tidak berhenti pada seorang pelaku yang tertangkap.
Di belakangnya bisa terdapat pemasok, pengedar, pembeli, jaringan komunikasi hingga jalur distribusi yang harus dibaca dan ditelusuri.
Karena itu, kemampuan membangun tim menjadi sama pentingnya dengan kemampuan melakukan penangkapan.
Dan satu bulan pertama kepemimpinan Andri memberikan sinyal bahwa adaptasi itu berlangsung cukup cepat.
Tidak Bekerja Sendirian
Seorang Kasat Narkoba tidak mungkin bekerja sendirian.
Setiap pengungkapan membutuhkan anggota yang berada di lapangan, melakukan penyelidikan, mengumpulkan informasi dan memastikan setiap langkah berjalan sesuai prosedur.
Satu informasi kecil bisa menjadi awal pengungkapan besar.
Satu nama dapat membawa penyidik kepada nama berikutnya.
Satu transaksi bisa membuka jalan menuju jaringan yang lebih luas.
Karena itu, 38 tersangka dalam satu bulan juga dapat dibaca sebagai gambaran koordinasi sebuah tim dalam menjalankan fungsi penindakan.
Andri boleh memiliki strategi, tetapi strategi itu baru memiliki arti ketika mampu diterjemahkan oleh personel di lapangan.
Di situlah kekompakan tim menjadi modal penting.
88 Gram Sabu dan 167 Ekstasi
Barang bukti yang diamankan juga memberikan gambaran mengenai tantangan yang dihadapi Satnarkoba Polres Sidrap.
Sebanyak 88 gram sabu-sabu dan 167 butir ekstasi bukan sekadar benda sitaan yang kemudian masuk dalam daftar barang bukti.
Setiap gram dan setiap butir memiliki potensi merusak kehidupan jika sampai beredar dan dikonsumsi masyarakat.
Sebab narkotika bukan hanya persoalan antara polisi dan pelaku.
Dampaknya dapat masuk ke ruang paling dekat dengan kehidupan manusia: keluarga.
Seorang anak bisa kehilangan masa depannya.
Orang tua bisa kehilangan harapan terhadap anaknya.
Sebuah keluarga bisa menghadapi persoalan yang panjang karena satu orang terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika.
Itulah sebabnya setiap pengungkapan narkotika sesungguhnya memiliki dimensi kemanusiaan.
Ketika barang haram berhasil diamankan sebelum beredar lebih luas, yang diselamatkan bukan hanya barang bukti dari masyarakat, tetapi juga manusia yang mungkin menjadi korbannya.
Dari Makassar ke Sidrap
Bagi AKP Andri Kurniawan, Sidrap menjadi panggung tugas baru setelah sebelumnya bertugas di Polres Pelabuhan Makassar.
Perpindahan tersebut membawa pengalaman lapangan dari lingkungan kerja yang berbeda.
Kini ia menghadapi karakter wilayah dan jaringan narkotika yang tentu memiliki pola tersendiri.
Namun, satu bulan pertama menunjukkan bahwa ia tidak membutuhkan waktu panjang untuk membangun ritme kerja.
Ia memilih bergerak bersama anggota.
Sebab dalam pekerjaan reserse, hasil akhirnya tidak ditentukan oleh seberapa banyak instruksi yang diberikan dari belakang meja, melainkan seberapa efektif informasi tersebut diolah dan diterjemahkan menjadi tindakan di lapangan.
38 Tersangka Bukan Berarti Perang Selesai
Di sisi lain, angka 38 tersangka juga harus dibaca secara hati-hati.
Jumlah tersebut tidak berarti persoalan narkotika di Sidrap telah selesai.
Justru sebaliknya.
Semakin aktif aparat melakukan pengungkapan, semakin terlihat pula bahwa pekerjaan rumah pemberantasan narkotika masih panjang.
Karena keberhasilan terbesar bukan sekadar membuat daftar tersangka semakin panjang.
Keberhasilan yang lebih substantif adalah ketika rantai peredaran semakin pendek, jaringan semakin sulit bergerak, pemasok berhasil ditemukan, jalur distribusi diputus, dan narkotika semakin sulit menjangkau masyarakat.
Pertanyaan berikutnya adalah sejauh mana setiap pengungkapan dapat dikembangkan untuk membongkar jaringan yang lebih besar.
Siapa pemasoknya?
Dari mana barang tersebut berasal?
Bagaimana jalur distribusinya?
Dan siapa yang berada di balik jaringan tersebut?
Di situlah ujian berikutnya bagi Satnarkoba Polres Sidrap.
Perang Melawan Narkoba Adalah Perang Menyelamatkan Generasi
Pada akhirnya, pemberantasan narkotika tidak hanya berbicara tentang penangkapan.
Ada generasi muda yang harus dijaga.
Ada keluarga yang harus dilindungi.
Ada masyarakat yang berharap lingkungannya terbebas dari peredaran barang haram.
Karena itu, langkah cepat Satnarkoba Polres Sidrap selama satu bulan pertama di bawah komando AKP Andri Kurniawan menjadi sinyal bahwa perang terhadap narkotika terus dilakukan.
38 tersangka, 88 gram sabu dan 167 butir ekstasi menjadi catatan awal.
Namun, angka itu bukan garis finish.
Justru menjadi bab pertama dari pekerjaan yang jauh lebih panjang.
Kasatnya baru, tetapi timnya mulai menemukan ritme.
Dan publik kini menunggu satu hal yang lebih besar: bukan hanya semakin banyak pelaku yang ditangkap, tetapi semakin dalam jaringan narkotika yang berhasil dibongkar dan semakin banyak masyarakat Sidrap yang berhasil diselamatkan.
Sebab perang melawan narkoba pada akhirnya bukan sekadar perang aparat melawan pelaku.
Ini adalah perang untuk menyelamatkan keluarga, menjaga generasi muda, dan mempertahankan masa depan masyarakat Sidrap. (Arya)


Tinggalkan Balasan