SIDRAP, HBK – Pelaksanaan Pekan Olahraga, Seni, dan Pembelajaran (Porsenijar) PGRI Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2026 di Kabupaten Sidrap tidak hanya menjadi ajang kompetisi bagi insan pendidikan, tetapi juga menghadirkan kisah hangat tentang semangat gotong royong dan keramahan masyarakat.

Di tengah membludaknya kedatangan kontingen dari 24 kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan, banyak warga Sidrap secara sukarela membuka pintu rumah mereka untuk dijadikan tempat menginap bagi para peserta yang sudah tidak mendapatkan fasilitas tempat penginapan lantaran penuh keseluruhan, Wisma, Kos-kosan, Hotel dan penginapan karena prediksi peserta hadir hampir 70 ribu orang.

Sikap tersebut menjadi bukti nyata bahwa masyarakat ikut mengambil peran dalam menyukseskan pelaksanaan Porsenijar, bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai tuan rumah yang melayani dengan sepenuh hati.

Salah satu kawasan yang terlihat aktif menerima tamu adalah Kompleks BTN Karza, Kelurahan Lakessi. Sejumlah rumah di kawasan tersebut ditempati peserta dari berbagai daerah, di antaranya Kabupaten Sinjai, Bone, Bulukumba, Parepare, Barru, Pinrang, Soppeng, Maros, dan beberapa daerah lainnya.

Setiap kabupaten mengirimkan ratusan hingga lebih dari seribu peserta yang terdiri atas guru dari berbagai jenjang pendidikan di bawah naungan PGRI. Besarnya jumlah kontingen membuat kebutuhan akomodasi meningkat, sehingga dukungan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam kelancaran pelaksanaan kegiatan.

Salah seorang warga, Bobbi, yang berprofesi sebagai guru di Kecamatan Tellu Limpoe, turut menyediakan rumahnya sebagai tempat menginap bagi sebagian peserta dari Kabupaten Sinjai. Sementara itu, H. Ady juga ikut berpartisipasi dengan menerima peserta dari Kabupaten Maros dan Bone.

Bagi mereka, menerima para tamu bukan sekadar menyediakan tempat beristirahat. Lebih dari itu, hal tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada para tamu yang datang dari berbagai daerah sekaligus wujud nyata dukungan terhadap suksesnya Porsenijar di Kabupaten Sidrap.

Sebagian besar peserta yang menginap merupakan kerabat, keluarga, sahabat, maupun rekan sesama guru yang telah lama menjalin hubungan baik. Namun tidak sedikit pula warga yang bersedia menerima tamu meski sebelumnya belum saling mengenal secara dekat. Semangat kekeluargaan itulah yang membuat suasana Porsenijar terasa hangat dan penuh keakraban.

Keramahan masyarakat Sidrap pun mendapat apresiasi dari para peserta. Selain memperoleh tempat menginap yang nyaman, mereka juga merasakan sambutan penuh kekeluargaan sejak pertama kali tiba. Tidak sedikit warga yang turut membantu menyiapkan kebutuhan konsumsi, memberikan informasi mengenai lokasi perlombaan, hingga mengantar peserta menuju arena kegiatan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah agenda berskala provinsi bukan hanya ditentukan oleh kesiapan panitia dan pemerintah daerah, tetapi juga oleh keterlibatan masyarakat. Partisipasi warga dalam menyediakan akomodasi menjadi contoh nyata semangat gotong royong yang masih terjaga di Bumi Nene Mallomo.

Kehadiran puluhan ribu peserta selama pelaksanaan Porsenijar juga membawa dampak positif terhadap perekonomian masyarakat. Hotel, penginapan, rumah makan, pedagang kaki lima, pelaku UMKM, hingga jasa transportasi mengalami peningkatan aktivitas seiring tingginya mobilitas peserta dan pendamping.

Semangat masyarakat yang rela berbagi tempat tinggal demi menyambut para tamu menjadi potret indah budaya sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge yang masih hidup dalam keseharian masyarakat Sidrap. Nilai-nilai inilah yang menjadikan Sidrap tidak hanya sukses sebagai penyelenggara Porsenijar PGRI Sulawesi Selatan 2026, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam bagi ribuan tamu yang datang dari seluruh penjuru Sulawesi Selatan. (Arya)