Makassar — Praktisi hukum sekaligus Ketua Persadi Makassar, Amiruddin Lili, menyampaikan pandangan berbeda terkait peristiwa yang menimpa Iptu Nasrullah.

Ia berharap pimpinan institusi kepolisian, mulai dari Kapolri, Kapolda Sulawesi Selatan, hingga wakil rakyat Sulsel di Komisi III DPR RI, dapat membuka mata dan telinga serta menilai kasus ini secara objektif, tanpa terpengaruh opini publik maupun komentar netizen di media sosial.

Menurut Amiruddin, dalam setiap pekerjaan, risiko selalu ada, termasuk bagi seorang perwira polisi seperti Iptu Nasrullah. Ia menekankan bahwa prestasi dan rekam jejak yang telah diraih tidak seharusnya tercoreng hanya karena satu peristiwa yang terjadi saat yang bersangkutan sedang menjalankan tugas.

“Jika kesalahan atau pelanggaran yang dilakukan tidak terkait dengan pekerjaan, wajar jika institusi atau publik memberikan sanksi. Namun dalam kasus ini, Iptu Nasrullah sedang melaksanakan tugas sebagai pengayom dan pelindung masyarakat. Ia bergerak cepat menindaklanjuti informasi gangguan keamanan di wilayahnya,” jelas Amiruddin.

Amiruddin menambahkan, seharusnya Iptu Nasrullah mendapatkan apresiasi karena dengan inisiatif sendiri ia bergerak ke lokasi untuk melakukan pengamanan.

Nasib berkata lain, karena dalam insiden tersebut seorang remaja meninggal dunia. Hal ini merupakan risiko yang muncul saat menjalankan tugas, bukan niat untuk membahayakan.

“Para pengambil kebijakan harus mempertimbangkan berbagai aspek terkait peristiwa ini. Kita semua tahu bahwa Iptu Nasrullah adalah perwira berprestasi dengan niat pengabdian yang tidak diragukan,” tutup Amiruddin.

Dukungan serupa juga datang dari warga Rappocini, Hj Nuraisa. Ia memohon kepada Kapolri, Kapolda Sulawesi Selatan, dan Kapolrestabes Makassar agar menilai kasus ini secara bijak. Iptu Nasrullah dikenal sebagai sosok aparat yang tegas dan profesional dalam menjalankan tugas, khususnya dalam memberantas kejahatan.

Biro Makassar
Editor
Redaksi harianberitakota
Reporter