SIDRAP, HBK — Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang (UMS Rappang) menghadirkan dosen dari Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan dan Universitas Muhammadiyah Malaysia, Assoc. Prof. Dwi Santoso, Ph.D., dalam kegiatan kuliah pakar yang dirangkaikan dengan sosialisasi beasiswa Ph.D.

Kegiatan tersebut berlangsung di Lantai 3 Gedung Rektorat UMS Rappang dan mengusung tema “Kesantunan Berbahasa: Kunci Sukses dalam Arena Politik Indonesia”.

Peserta kegiatan terdiri dari mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) serta Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP, serta dihadiri jajaran pimpinan universitas, mulai Wakil Rektor I hingga IV, dekan, wakil dekan, dan dosen.

Dekan FISIP UMS Rappang, Dr. Erfina, menjelaskan bahwa kegiatan ini mencakup dua agenda utama, yakni kuliah pakar dan sosialisasi peluang studi lanjut jenjang doktoral (Ph.D) di Universitas Muhammadiyah Malaysia.

“Tujuan kegiatan ini tidak hanya memberikan wawasan akademik kepada mahasiswa, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas dosen melalui kesempatan melanjutkan studi S3,” ujarnya.

Ia menambahkan, melalui kuliah pakar tersebut, mahasiswa didorong untuk memahami pentingnya kesantunan berbahasa, baik di lingkungan akademik maupun dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya dalam bidang politik.

“Mahasiswa perlu dibekali kemampuan berbahasa yang santun sebagai bagian dari kompetensi sosial. Ini penting untuk diterapkan di tengah masyarakat,” kata Dr.Erfina.

Dalam pemaparannya, Dwi Santoso menekankan bahwa kesantunan berbahasa menjadi salah satu strategi efektif dalam komunikasi politik. Ia menyinggung konsep “dipangku mati”, yang menggambarkan bagaimana komunikasi yang santun dapat meredam konflik tanpa harus menggunakan pendekatan agresif ataupun arogan.

Wakil Rektor I UMS Rappang, Assoc. Prof. Dr. H.M. Raiz Rahmat Razak, M.Si., menyebutkan bahwa tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi politik saat ini.

“Mahasiswa perlu memahami bahwa dalam berpolitik juga ada etika dan sopan santun yang harus dijunjung tinggi, apalagi dalam budaya Bugis yang menjunjung nilai sipakatau dan sipakalebbi,” ujarnya.

Selain kuliah pakar, kegiatan ini juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan peluang beasiswa doktoral bagi dosen UMS Rappang melalui kerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Malaysia.

“Kami berharap para dosen dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk meningkatkan kualifikasi akademik mereka,” tambahnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Barru, Dr. Andi Fiptar Abdi Alam, M.Si., yang turut hadir, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut.

Ia menilai tema kesantunan berbahasa sangat penting di tengah dinamika politik yang cenderung mengabaikan etika komunikasi.

“Kesantunan berbahasa saat ini mulai memudar, khususnya di ruang-ruang politik. Karena itu, kegiatan seperti ini menjadi momentum penting untuk mengedukasi mahasiswa dan dosen agar tetap menjunjung tinggi nilai adab dalam berkomunikasi,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan guna memperkuat kualitas akademik sekaligus karakter civitas akademika, khususnya dalam menghadapi tantangan sosial dan politik di masa depan. (Arya)