SIDRAP, HBK — Komunitas Tani Sulawesi Selatan (KTSS) akan menggelar pertemuan akbar yang dipusatkan di Villa H. Zulkifli Zain (H. Pilli), Passeno, Kecamatan Baranti, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Minggu, 26 April 2026.

Pertemuan ini menjadi momentum penting dalam merumuskan strategi peningkatan sektor pertanian, khususnya melalui penerapan sistem tanam IP300 serta penanganan serius terhadap Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

Sejumlah pengurus KTSS dari berbagai kabupaten di Sulawesi Selatan dilaporkan telah mulai berdatangan untuk mengikuti forum yang dikemas dalam konsep tudang sipulung—tradisi musyawarah khas petani Bugis.

Pertemuan ini juga dijadwalkan akan dihadiri langsung oleh Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif.

IP300: Dari Target Menjadi Budaya Bertani

Dalam beberapa tahun terakhir, Sidrap berhasil menjadikan sistem tanam IP300—yakni pola tanam padi tiga kali dalam setahun—bukan sekadar program pemerintah, melainkan sudah menjadi budaya kerja petani.

Di lapangan, petani terbiasa dengan ritme cepat: tanam, panen, lalu kembali tanam tanpa jeda panjang.

Prinsip yang berkembang sederhana namun kuat: “lahan jangan sampai nganggur.”

Ketua KTSS, Mustamang, menilai bahwa transformasi ini menjadi bukti bahwa petani mampu “naik kelas” jika didukung sistem yang tepat.

“Sidrap bukan lagi bicara target, tapi sudah pada tahap pembiasaan. Ini yang ingin kita replikasi di daerah lain,” ujarnya.

Ancaman Nyata: OPT dan Penggerek Batang

Namun, di balik peningkatan intensitas tanam, muncul tantangan serius yang menjadi fokus utama pembahasan, yakni serangan OPT, khususnya hama penggerek batang.

Hama ini dikenal petani sebagai “musuh tak kasat mata.” Secara visual, tanaman padi tampak sehat—batang tegak dan daun hijau—namun saat panen, hasilnya mengecewakan karena bulir padi kosong.

Dalam sistem IP300, ancaman ini semakin kompleks. Tanpa jeda musim tanam, siklus hidup hama tidak terputus, bahkan ikut beradaptasi dengan pola tanam cepat.

Jika tidak diantisipasi dengan strategi terpadu, OPT berpotensi menurunkan produktivitas secara signifikan, bahkan menggagalkan target panen.

Strategi Pengendalian: Dari Pola Tanam hingga Teknologi

Pertemuan KTSS ini diproyeksikan melahirkan sejumlah rekomendasi penting dalam pengendalian OPT, antara lain:

  • Pengaturan pola tanam serempak, untuk memutus siklus hidup hama
  • Penggunaan varietas unggul tahan hama
  • Penguatan pengendalian hayati, seperti pemanfaatan musuh alami
  • Monitoring intensif berbasis kelompok tani
  • Pemanfaatan teknologi pertanian, termasuk sistem peringatan dini serangan OPT

Pendekatan ini dinilai penting agar produktivitas tinggi yang dihasilkan dari IP300 tidak “bocor” akibat serangan hama.

Sidrap: Model Keberhasilan Peningkatan Produktivitas

Keberhasilan Sidrap dalam sektor pertanian tidak lepas dari sinergi antara pemerintah daerah, petani, dan berbagai pemangku kepentingan.

Sejumlah capaian yang menjadi rujukan antara lain:

  • Peningkatan indeks pertanaman hingga IP300 di sebagian besar wilayah irigasi teknis
  • Produktivitas padi yang terus meningkat, dengan rata-rata hasil panen per hektare yang mampu mencapai target optimal nasional.
  • Dukungan infrastruktur pertanian, seperti perbaikan jaringan irigasi dan akses alat mesin pertanian (alsintan).
  • Pendampingan intensif kepada petani, melalui penyuluh lapangan dan program pemerintah.

Program ini sejalan dengan upaya menjadikan Sidrap sebagai salah satu lumbung pangan utama di Sulawesi Selatan.

Tudang Sipulung: Merumuskan Masa Depan Pertanian

Legislator Sulsel, H. Zulkifli Zain (H. Pilli), menegaskan bahwa pertemuan ini bukan sekadar ajang silaturahmi, melainkan forum strategis untuk merumuskan masa depan pertanian Sulawesi Selatan.

“Ini momentum menyatukan pengalaman, tantangan, dan solusi. Kita ingin pertanian Sulsel tidak hanya produktif, tapi juga berkelanjutan,” ujarnya.

Dengan menjadikan Sidrap sebagai studi kasus keberhasilan, KTSS berharap pola IP300 yang terintegrasi dengan pengendalian OPT dapat diterapkan lebih luas di berbagai daerah.

Harapan: Produktivitas Tinggi dan Berkelanjutan

Pertemuan KTSS ini diharapkan melahirkan langkah konkret dalam menjaga keseimbangan antara peningkatan produksi dan keberlanjutan ekosistem pertanian.

Sebab, di tengah tuntutan produksi tinggi, petani tidak hanya dituntut untuk cepat, tetapi juga cermat dalam menghadapi ancaman yang tak terlihat.

Di sinilah pentingnya kolaborasi, inovasi, dan konsistensi—agar setiap musim tanam benar-benar berbuah panen, bukan sekadar harapan. (Arya)