SIDRAP, HBK — Di saat banyak daerah baru sibuk mencari jalan keluar ketika persoalan sudah membesar, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) memilih bergerak lebih cepat.

Ancaman kekurangan air yang mulai menghantui sebagian areal persawahan di tengah musim kemarau ternyata tidak hanya menjadi perhatian pemerintah daerah dan jajaran pertanian.

Kapolres Sidrap, AKBP Indra Waspada Yuda, ikut menaruh perhatian.

Yang menarik, sebuah solusi tak biasa muncul dari jajaran Polres Sidrap: memproyeksikan kendaraan water cannon untuk membantu memasok air ke areal persawahan yang membutuhkan.

Kendaraan yang selama ini lebih dikenal masyarakat sebagai perlengkapan kepolisian dalam pengamanan dan pengendalian massa itu kini disiapkan untuk misi yang berbeda.

Bukan menuju lokasi unjuk rasa.

Bukan pula untuk menghadapi kerumunan.

Namun diproyeksikan membawa air menuju hamparan sawah dan membantu petani mempertahankan tanaman padinya.

Gagasan tersebut terbilang sederhana, tetapi memiliki makna besar.

Ketika informasi mengenai potensi kekurangan air di sejumlah areal pertanian sampai ke jajaran kepolisian, AKBP Indra Waspada Yuda merespons dengan membuka kemungkinan pemanfaatan fasilitas yang dimiliki Polres Sidrap.

Salah satunya water cannon.

Bagi jajaran Polres Sidrap, persoalan yang dihadapi petani bukan semata-mata urusan sektor pertanian.

Di balik setiap hektare sawah terdapat kehidupan keluarga yang menggantungkan pendapatan dari hasil panen.

Terlebih Sidrap selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil beras penting di Sulawesi Selatan.

Karena itu, ancaman kekurangan air tidak hanya berbicara mengenai tanaman padi yang terancam gagal tumbuh. Persoalan tersebut juga berkaitan dengan ketahanan pangan, pendapatan petani hingga stabilitas ekonomi masyarakat.

Di titik itulah gagasan memanfaatkan water cannon mendapatkan arti berbeda.

Fasilitas negara yang tersedia diupayakan agar dapat memberi manfaat langsung ketika masyarakat membutuhkannya.

Inisiatif Kapolres Sidrap tersebut mendapat respons positif dari Bupati Sidrap, H. Syaharuddin Alrif.

Bupati menilai keterlibatan Polres Sidrap dalam membantu kebutuhan petani menunjukkan bahwa persoalan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat tidak mungkin ditangani pemerintah daerah seorang diri.

Dibutuhkan sinergi seluruh unsur, termasuk TNI-Polri, pemerintah, dunia usaha hingga masyarakat.

“Ini bentuk sinergi yang luar biasa. Ketika petani membutuhkan dukungan, Polres Sidrap menunjukkan kepeduliannya,” ujar Syaharuddin Alrif usai membuka karnaval Agustusan di Amparita, Sabtu (8/8/2026).

Menurutnya, kepedulian tersebut menjadi contoh bagaimana kehadiran negara dapat dirasakan langsung masyarakat.

Bukan hanya hadir setelah persoalan menjadi besar, tetapi bergerak ketika potensi masalah mulai terlihat.

Bagi sebagian masyarakat, kekurangan air mungkin dipandang sebagai gangguan aktivitas sehari-hari.

Namun bagi petani, ceritanya berbeda.

Air menentukan hidup dan matinya tanaman.

Ketika pasokan air terlambat pada fase tertentu, tanaman padi dapat mengalami penurunan produktivitas. Jika berlangsung lebih lama, risiko kerugian yang harus ditanggung petani semakin besar.

Artinya, ketika sawah kekurangan air, yang dipertaruhkan bukan hanya tanaman.

Ada biaya produksi yang sudah dikeluarkan.

Ada pupuk dan benih yang telah dibeli.

Ada tenaga yang telah dicurahkan.

Dan yang paling penting, ada pendapatan keluarga petani yang menunggu hasil panen.

Karena itulah setiap tambahan pasokan air menjadi begitu berarti.

Jika rencana tersebut terealisasi di lapangan, akan ada pemandangan yang mungkin jarang disaksikan masyarakat Sidrap.

Mobil water cannon melaju menuju hamparan persawahan.

Kendaraan besar kepolisian itu tidak datang untuk mengendalikan massa, melainkan membawa air.

Tidak berhadapan dengan demonstran, tetapi bertemu petani.

Tidak digunakan dalam situasi ketegangan, tetapi hadir di tengah harapan agar tanaman padi tetap bertahan sampai masa panen.

Pemandangan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun di baliknya tersimpan pesan mengenai fleksibilitas pemanfaatan fasilitas negara ketika masyarakat sedang membutuhkan pertolongan.

Langkah AKBP Indra Waspada Yuda sekaligus memperlihatkan pendekatan bahwa menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat tidak selalu berhenti pada patroli, penegakan hukum ataupun pengamanan.

Kondisi sosial dan ekonomi masyarakat juga memiliki hubungan erat dengan stabilitas suatu daerah.

Di Sidrap, pertanian merupakan salah satu denyut utama kehidupan masyarakat. Ribuan keluarga menggantungkan hidup secara langsung maupun tidak langsung dari aktivitas pertanian.

Karena itu, ketika petani menghadapi ancaman terhadap hasil panennya, persoalan tersebut pada akhirnya juga menyentuh kepentingan daerah secara luas.

Inisiatif pemanfaatan water cannon juga hadir di tengah upaya Pemerintah Kabupaten Sidrap mempertahankan produktivitas pertanian selama musim kemarau.

Berbagai langkah penanganan kekurangan air terus dilakukan melalui pemanfaatan sumber-sumber air yang tersedia dan dukungan sarana untuk membantu petani.

Masuknya Polres Sidrap dalam barisan tersebut semakin memperkuat pesan bahwa menjaga pertanian bukan hanya menjadi pekerjaan satu instansi.

Petani berada di garis depan.

Pemerintah menyiapkan kebijakan dan dukungan.

Sementara unsur lainnya dapat mengambil peran sesuai kemampuan dan fasilitas yang dimiliki.

Dan kali ini, Polres Sidrap memilih ikut mengambil bagian.

Jika selama ini water cannon identik dengan situasi pengamanan, di Sidrap kendaraan itu diproyeksikan memiliki cerita berbeda.

Dari alat pengendalian massa menjadi pembawa harapan bagi petani.

Sebab bagi daerah yang hidup bersama hamparan sawah seperti Sidrap, menjaga air berarti menjaga tanaman. Menjaga tanaman berarti menjaga panen. Dan menjaga panen berarti ikut menjaga kehidupan ribuan keluarga petani di Bumi Nene Mallomo. (Arya)