SIDRAP, HBK — Kualitas sejumlah proyek infrastruktur di jalur trans Provinsi di wilayah Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, dipertanyakan.

Proyek pengerjaan talud dan pengecoran rabat beton yang masih relatif baru ditemukan mengalami keretakan, pengelupasan hingga material beton yang mudah hancur.

Temuan tersebut terlihat saat awak media turun langsung melakukan investigasi di sejumlah lokasi pekerjaan.

Dari hasil penelusuran di lapangan, ditemukan sejumlah bagian paket pekerjaan yang secara kasatmata menunjukkan kondisi fisik yang diduga tidak memenuhi kualitas sebagaimana mestinya.

Salah satu lokasi benar-benar bermasalah berada di Kecamatan Panca Lautang, tepatnya di depan SD 4 Bilokka.

Pada proyek pembangunan talud tersebut, ditemukan sejumlah bagian konstruksi mengalami retak dan kerusakan.

Bahkan, material pada bagian tertentu terlihat mengelupas dan pecah. Sejumlah pecahan beton yang ditemukan di sekitar lokasi juga menunjukkan material yang rapuh dan mudah hancur ketika diremas.

Kondisi serupa ditemukan pada proyek rabat beton pelebaran jalan provinsi di Simae, Kecamatan Baranti, pada sisi kiri badan jalan poros Rappang-Pinrang.

Rabat beton tersebut membentang dari sekitar kantor eks Polsek Baranti, yang kini digunakan sebagai kantor pemenuhan gizi Polres Sidrap, menuju SPBU Simae.

Pekerjaan yang menurut informasi warga mulai dikerjakan pada akhir Juli hingga awal Agustus 2026 itu, kini ditemukan mengalami keretakan pada sejumlah bagian.

Panjang ruas yang mengalami keretakan disebut mencapai sekitar 650 meter panjangnya.

Kondisi tersebut menjadi sorotan warga karena usia pekerjaan masih tergolong baru, namun permukaan beton sudah menunjukkan retakan dan beberapa bagian terlihat mengalami kerusakan.

Warga Simae, Ridwan, mempertanyakan kualitas pekerjaan tersebut.

Ia berharap pihak terkait segera melakukan pemeriksaan agar kerusakan yang terjadi tidak dibiarkan dan pekerjaan yang menggunakan anggaran negara benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Hal senada disampaikan warga Bilokka, Anwar. Menurutnya, kondisi fisik pekerjaan yang ditemukan di lapangan menimbulkan pertanyaan mengenai kualitas material dan proses pengerjaannya.

“Kalau pekerjaan masih baru tetapi sudah retak dan gampang hancur, tentu kami mempertanyakan kualitasnya. Kami berharap pemerintah turun langsung mengecek,” ujarnya.

Diduga Tak Sesuai Bestek

Temuan di lapangan tersebut memunculkan dugaan adanya pekerjaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi teknis atau bestek sebagaimana yang dipersyaratkan dalam kontrak.

Warga juga mempertanyakan apakah volume, komposisi material, ketebalan serta mutu campuran beton yang digunakan telah sesuai dengan rancangan anggaran biaya (RAB) dan spesifikasi pekerjaan.

Muncul pula sorotan mengenai potensi pemborosan anggaran apabila kualitas pekerjaan tidak sebanding dengan nilai proyek.

Namun, dugaan tersebut masih perlu dibuktikan melalui pemeriksaan teknis, dokumen kontrak, RAB, serta audit dari instansi berwenang.

Apalagi, pekerjaan tersebut disebut baru dikerjakan pada akhir Juli dan Agustus 2026, namun di sejumlah titik sudah menunjukkan kerusakan.

Dinas PU Sidrap Akui Sudah Menerima Keluhan

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Bina Marga Sidrap, Abd Rasyid, saat dikonfirmasi awak media pada puncak peringatan Hari Kejaksaan ke-81, Kamis (3/9/2026), membenarkan bahwa proyek tersebut dikerjakan oleh rekanan PT Bumi Karsa.

Menurut Abd Rasyid, pemerintah daerah dalam proyek tersebut berperan melakukan koordinasi dan pengawasan.

“Iya, itu milik PT Bumi Karsa yang mengerjakan sebagai rekanan. Kami hanya koordinasi dan mengawasinya,” ujarnya.

Ia juga mengakui pihaknya telah menerima informasi dari masyarakat mengenai adanya persoalan pada hasil pekerjaan di lapangan.

“Memang sudah ada warga yang memberitahukan kalau pengerjaan fisik di lapangan ada masalah dan kualitasnya memang diduga tidak sesuai. Kami sudah turun mengecek kondisinya,” katanya.

Abd Rasyid membenarkan bahwa pihaknya menemukan adanya keretakan pada talud di Bilokka serta persoalan pada pengecoran rabat beton di Simae, Kecamatan Baranti.

“Memang benar ada keretakan talud di Bilokka dan pengecoran rabat beton di Simae, Baranti,” ujarnya.

Temuan tersebut kini menjadi perhatian karena menyangkut kualitas pekerjaan infrastruktur yang menggunakan anggaran pemerintah.

Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan apakah kerusakan tersebut disebabkan oleh mutu material, metode pelaksanaan, kondisi tanah, faktor teknis lainnya, atau terdapat ketidaksesuaian dengan spesifikasi kontrak.

Masyarakat berharap pihak berwenang tidak hanya melakukan pemeriksaan secara administratif, tetapi juga melakukan uji mutu material dan pemeriksaan volume serta spesifikasi pekerjaan secara menyeluruh.

Jika terbukti tidak sesuai kontrak, warga meminta agar pihak pelaksana bertanggung jawab melakukan perbaikan sesuai ketentuan, sehingga anggaran negara tidak menjadi sia-sia dan hasil pembangunan dapat bertahan dalam jangka panjang. (Arya/*)