SIDRAP, HBK — Kekhawatiran warga Desa Rijang Panua, Kecamatan Kulo, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), akhirnya memuncak.
Jembatan Macege yang selama ini menjadi akses penghubung masyarakat terpaksa ditutup sementara setelah kondisinya dinilai semakin membahayakan pengguna jalan.
Keputusan penutupan dilakukan bukan tanpa alasan. Warga menilai kondisi jembatan sudah berada pada titik yang mengkhawatirkan, terutama setelah hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir.
Pengikisan tanah di sekitar pondasi jembatan diduga semakin parah dan berpotensi mengancam kekuatan struktur bangunan.
Kepala Desa Rijang Panua, Rudi Tompang, mengatakan langkah penutupan merupakan bentuk antisipasi untuk menghindari kemungkinan terburuk yang dapat membahayakan keselamatan masyarakat.
“Daripada kendaraan lewat lalu tiba-tiba ambruk dan masuk sungai, lebih baik kami tutup dulu,” ujarnya, Jumat (12/6/2026).
Menurut Rudi, kondisi Jembatan Macege sebenarnya sudah lama menjadi perhatian pemerintah desa.
Berbagai usulan perbaikan telah diajukan ke pemerintah terkait, namun hingga kini belum terlihat adanya pekerjaan perbaikan di lapangan.
Padahal, jembatan yang berada di ruas jalan provinsi Kulo–Malimping tersebut memiliki peran penting sebagai akses mobilitas warga dan jalur distribusi hasil pertanian.
Kerusakan yang terjadi tidak hanya berdampak pada keselamatan pengguna jalan, tetapi juga menghambat aktivitas ekonomi masyarakat.
Akibat penutupan tersebut, warga kini harus menggunakan jalur alternatif dengan jarak tempuh yang lebih jauh.
Meski menambah waktu perjalanan dan biaya transportasi, masyarakat memilih opsi tersebut demi keselamatan.
Viralnya kondisi Jembatan Macege di media sosial juga memunculkan berbagai respons dari masyarakat.
Banyak yang berharap pemerintah provinsi segera turun tangan mengingat status jalan tersebut berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.
Harapan warga kini tertuju kepada Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, agar segera menginstruksikan penanganan darurat sebelum kerusakan semakin parah dan menimbulkan korban jiwa.
Bagi warga Kulo, persoalan ini bukan lagi sekadar tentang rusaknya sebuah jembatan. Jembatan Macege telah menjadi simbol kebutuhan mendesak akan kehadiran pemerintah dalam menjamin keselamatan masyarakat dan menjaga konektivitas wilayah.
Masyarakat berharap langkah cepat dapat segera dilakukan, baik melalui perbaikan darurat maupun pembangunan kembali bagian yang mengalami kerusakan.
Sebab, keselamatan warga dinilai jauh lebih penting daripada menunggu kondisi semakin parah hingga terjadi musibah yang tidak diinginkan.
Kini, Jembatan Macege berdiri sebagai pengingat bahwa infrastruktur yang dibiarkan rusak terlalu lama bukan hanya menghambat aktivitas warga, tetapi juga berpotensi mengancam nyawa mereka setiap saat. (Arya)




Tinggalkan Balasan