Malam Jumat, 27 Februari, halaman Masjid Agung Pangkajene dipenuhi cahaya syiar Ramadan.
Panggung tabligh akbar berdiri kokoh di jantung Kabupaten Sidenreng Rappang, menjadi titik temu masyarakat yang datang bersilaturahmi sekaligus menyimak tausiah Ramadan dari Das’ad Latif. Antusiasme warga yang berjubel menandai kuatnya spirit religius yang hidup di tengah masyarakat. 
Momentum ini tidak sekadar seremoni keagamaan, melainkan juga refleksi arah pembangunan daerah. Pemerintah daerah bersama masyarakat tampak sepakat menjadikan religiusitas sebagai salah satu prioritas, menghadirkan ruang kebersamaan spiritual yang mempererat hubungan sosial sekaligus memperkuat nilai moral publik. Upaya ini dapat dibaca sebagai langkah merevitalisasi identitas Sidrap sebagai daerah religius—yang dikenal sebagai lumbung ulama dan penghafal Al-Qur’an.
Visi tersebut menegaskan bahwa pembangunan tidak hanya berorientasi pada capaian material, tetapi juga pada penguatan karakter masyarakat. Karena itu, kegiatan keagamaan seperti tabligh akbar diharapkan terus digiatkan hingga ke tingkat basis, agar nilai-nilai spiritual menjadi fondasi yang menopang dinamika pemerintahan dan kehidupan sosial.
Dalam perspektif kepemimpinan, pesan yang mengemuka selaras: kepemimpinan yang diterima masyarakat adalah kepemimpinan yang melayani dan memberi dampak nyata. Kepentingan publik harus ditempatkan di atas kepentingan personal. Nilai itulah yang sejalan dengan makna Ramadan sebagai bulan penuh berkah—momen untuk menumbuhkan empati, solidaritas, dan kesadaran bahwa manusia diciptakan dalam sebaik-baik bentuk, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an.

Tabligh akbar malam itu bukan sekadar agenda seremonial, tetapi simbol ikhtiar kolektif membangun Sidrap yang religius, harmonis, dan diberkahi. Sebuah pengingat bahwa kemajuan daerah akan semakin kokoh bila ditopang oleh masyarakat yang kuat secara spiritual sekaligus sosial. (*)









Tinggalkan Balasan