SIDRAP, HBK — Kebersamaan dan kedewasaan sosial ditunjukkan masyarakat petani penggarap di kawasan lahan seluas 6.000 hektare milik PT Buli.

Sekitar seratus warga dari dua kelompok petani yang telah bertahun-tahun menggantungkan hidup di lahan tersebut berkumpul secara swadaya di kantor pusat PT Buli, wilayah Bila Riase dan Barukku, Kecamatan Pitu Riase.

Pertemuan ini murni atas inisiatif masyarakat sebagai bentuk tanggung jawab bersama menjaga ketenangan, menyikapi dinamika informasi, serta memastikan aktivitas pertanian tetap berjalan aman dan berkelanjutan.

Dua kelompok petani yang hadir—kelompok H. Polli dan kelompok Hj. Hasnah—terdiri dari sekitar 40 petani dari 20 kepala keluarga.

Mereka dipercaya menggarap lahan produktif yang ditanami jagung, sawit, dan padi, komoditas yang selama ini menjadi sumber penghidupan utama.

Sebagian petani berasal dari luar daerah dan datang ke Sidrap semata-mata untuk mencari nafkah secara halal melalui pertanian.

Perwakilan masyarakat, Ikhsan, menegaskan bahwa kebersamaan para petani adalah kekuatan utama yang harus dijaga.

“Sejak awal kami sepakat mencari rezeki dengan cara baik. Kami tidak ingin terpancing isu atau narasi yang justru merusak persaudaraan sesama petani,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Baharuddin (H. Polli). Menurutnya, lahan yang digarap adalah ruang kehidupan bersama, bukan arena konflik.

“Kami sudah lama di sini, hidup dari tanah ini. Kalau kami terpecah karena hasutan, yang rugi adalah kami sendiri,” tegasnya.

Sikap dewasa masyarakat ini muncul menyusul beredarnya sebuah video di TikTok yang dinilai bermuatan provokatif dan berpotensi membenturkan kelompok petani dengan kebijakan internal perusahaan maupun pemerintah.

Narasi dalam konten tersebut disebut-sebut sengaja disusun untuk memancing emosi dan menciptakan konflik horizontal.

Direktur PT Buli, Putra Wahyu, dalam keterangannya menegaskan bahwa perusahaan selalu mengedepankan dialog dan penyelesaian secara persuasif.

“Kami menghargai para petani penggarap yang selama ini ikut menjaga stabilitas. Perusahaan terbuka terhadap komunikasi, selama semua pihak menghormati aturan dan kesepakatan yang berlaku,” jelasnya.

Dari unsur keamanan, jajaran Polsek Pitu Riase yang dipimpin Ade Luthfi turut hadir memberikan imbauan kamtibmas.

Kapolsek secara tegas meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas sumber dan tujuannya.

“Kami mengajak semua pihak menahan diri, menjaga keharmonisan, dan tidak mudah diadu domba. Keamanan wilayah ini terjaga karena masyarakatnya kompak,” pesannya.

Pernyataan tegas juga datang dari Andi Syukri Baharman. Ia menilai konten provokatif di media sosial memiliki tujuan jelas untuk membenturkan masyarakat yang selama ini hidup rukun.

“Kalau masyarakat terpancing, yang hancur bukan hanya ketertiban, tapi juga sumber penghidupan mereka sendiri. Karena itu, literasi informasi dan sikap bijak sangat penting,” ujarnya.

Pertemuan tersebut ditutup dengan komitmen bersama: menolak segala bentuk provokasi, menjaga persatuan, serta terus membangun komunikasi yang sehat antara masyarakat, perusahaan, dan aparat keamanan.

Di tengah derasnya arus informasi digital, para petani penggarap PT Buli Sidrap memilih satu sikap yang tegas—tetap bersatu, bekerja dengan tenang, dan menjaga kondusifitas demi masa depan yang lebih pasti. (Arya)