MAKASSAR, HBK — Ketua DPW Partai NasDem Sulawesi Selatan, Syaharuddin Alrif, memulai masa kepemimpinannya dengan menggelar konsolidasi pengurus dari 24 kabupaten/kota di Makassar, Jumat (13/2/2026).

Pertemuan perdana ini menjadi panggung penegasan arah politik organisasi sekaligus sinyal konsolidasi kekuatan menjelang siklus elektoral berikutnya.

Dalam pidato hampir setengah jam, Syahar menekankan bahwa penunjukannya menggantikan Rusdi Masse bukan ambisi pribadi, melainkan amanah yang ia yakini sebagai tanggung jawab moral dan politik. Bupati Sidenreng Rappang itu menyebut selama 12 tahun menjabat sekretaris wilayah, ia tidak pernah menargetkan posisi ketua. Narasi tersebut dinilai sebagai upaya membangun legitimasi moral di internal partai sekaligus meredam potensi friksi elite.

Lebih jauh, Syahar langsung mengirim pesan disiplin politik kepada kader. Ia memastikan proses penjaringan bakal calon legislatif akan dimulai lebih awal, yakni awal 2027. Strategi ini bukan sekadar percepatan administratif, tetapi langkah taktis untuk mengunci loyalitas kader dan mencegah perpindahan politik menjelang kontestasi.

Menurutnya, kader yang menunjukkan tanda-tanda ingin hengkang akan langsung dievaluasi bahkan diusulkan pergantian antar waktu. Penegasan itu memperlihatkan pendekatan kepemimpinan berbasis kontrol organisasi yang kuat, sejalan dengan tradisi kaderisasi partai yang dibangun oleh pendiri NasDem, Surya Paloh.

Di sisi lain, Syahar mencoba menyeimbangkan pesan disiplin dengan pendekatan emosional. Ia berjanji memimpin secara kolektif kolegial, menilai kader berdasarkan kinerja dan loyalitas, bukan kedekatan personal. Pernyataan ini penting secara politik karena memberi sinyal bahwa distribusi posisi dan peluang politik akan berbasis merit, bukan patronase.

Secara strategis, konsolidasi awal ini dibaca pengamat sebagai upaya memperkuat struktur partai di Sulawesi Selatan, provinsi yang dikenal memiliki dinamika politik kompetitif dan menjadi barometer kekuatan partai di kawasan timur Indonesia. Stabilitas internal partai dinilai berdampak langsung pada kualitas representasi politik di parlemen daerah maupun pusat.

Bila konsolidasi berjalan efektif, langkah Syahar berpotensi memperkuat posisi NasDem dalam mengawal agenda pembangunan daerah, khususnya isu kesejahteraan, pelayanan publik, dan penguatan ekonomi lokal. Sebaliknya, jika konsolidasi gagal menjaga soliditas, konflik internal dapat melemahkan fungsi partai sebagai penyalur aspirasi masyarakat.

Dengan demikian, pidato perdana ini bukan sekadar seremoni kepemimpinan baru, melainkan sinyal awal bagaimana arah politik NasDem Sulsel akan dibentuk: disiplin organisasi diperketat, loyalitas diuji lebih dini, dan kepentingan publik dijadikan narasi utama legitimasi kekuasaan partai.

Penulis: Dian Anggraeni)