SIDRAP, HBK — Ikatan Wartawan Online (IWO) Sidrap akan menggelar pendidikan dan pelatihan jurnalistik digital, Kamis pekan ini di Hotel Grand Sidny Pangkajene.
Acara ini menghadirkan tiga sosok penting di dunia jurnalistik Sidrap: Syafruddin Wela, H. Purmadi Muin, dan Edy Basri.
Bukan sekadar pelatihan biasa, kegiatan ini merupakan langkah sistematis dan penuh kesadaran untuk memperbarui “DNA” wartawan di era konvergensi media.
Di tengah dunia yang dibentuk oleh algoritma, big data, dan search engine optimization (SEO), wartawan kini dituntut untuk memahami lebih dari sekadar pena dan buku catatan. Mereka perlu menguasai cara kerja mesin pencari, memahami perilaku audiens digital, dan menyiasati dinamika arus informasi.
Tiga nama besar hadir sebagai pencerah. Mereka bukan hanya narasumber, tetapi arsitek kata-kata yang berpengalaman mengarungi gelombang perubahan dunia media.
Pertama, Syafruddin Wela — mantan Pemimpin Koran Ajatappareng dan Redaktur Harian Parepos (Fajar Grup) — akan membedah teknik menulis dan wawancara, memadukan pendekatan klasik dan modern. “Wartawan itu ibarat arkeolog,” ujarnya.
“Kita harus tahu cara menggali fakta, menghapus bias, dan menyusun narasi tanpa merusak keaslian temuan.”
Kedua, H. Purmadi Muin, senior PWI Sidrap yang hingga kini masih aktif menulis di Harian Berita Kota Makassar (BKM), akan mengupas materi bertajuk Media Sosial dan Citizen Journalism: Ketika Semua Orang Bisa Jadi Wartawan. Di era “prosumer” — ketika konsumen sekaligus menjadi produsen informasi — Purmadi akan menguraikan bagaimana user-generated content kini punya kekuatan sebanding, bahkan melebihi media arus utama.
Setiap orang dengan ponsel di tangan, katanya, kini bisa menjadi saksi sejarah.
Ketiga, Edy Basri — Ketua IWO Sidrap sekaligus Direktur Katasulsel.com — akan membedah strategi jurnalisme digital dan pentingnya bermain di arena SEO.
“Hari ini, menulis berita tak cukup hanya apik dan informatif,” ujarnya. “Berita harus bisa ditemukan, dibaca, dan dibagikan. Kita tidak hanya bersaing dengan wartawan lain, tapi juga dengan algoritma.”
Pelatihan ini diikuti oleh anggota internal IWO Sidrap. Mereka yang hadir bukan sekadar untuk memenuhi daftar hadir, tetapi untuk memperlengkapi diri dengan “senjata baru” menghadapi dunia yang bergerak semakin cepat.
Edy Basri menyebutkan, kegiatan ini merupakan bagian dari program capacity building IWO Sidrap yang telah dirancang sejak awal tahun.
“Di tengah disrupsi informasi, wartawan harus adaptif. Tidak cukup hanya bertahan, kita harus berkembang,” tegasnya.
Ia menegaskan, pelatihan ini bukan semata pembekalan teknis, tetapi juga merupakan ritus pembaruan — sebuah refleksi mendalam tentang esensi menjadi wartawan di abad ke-21. IWO Sidrap tak ingin hanya menjadi saksi perubahan zaman, tetapi menjadi bagian aktif dari perubahan itu. (*)









Tinggalkan Balasan