
SIDRAP, HBK — Suasana khidmat berubah menjadi penuh haru saat Bupati Sidrap, H. Syaharuddin Alrif, menyampaikan sambutan pada pelaksanaan Salat Idulfitri 1447 Hijriah di lapangan sepak bola Stadion Ganggawa, Kelurahan Lakessi, Kecamatan Maritengngae, Sabtu (21/3/2026).
Di hadapan ribuan masyarakat yang memadati stadion, Syaharuddin membuka sambutannya dengan penuh kekhusyukan.
Kalimat demi kalimat yang ia sampaikan tak hanya menjadi pidato seremonial, tetapi menjelma sebagai ungkapan hati seorang pemimpin kepada rakyat yang dicintainya.
Dengan suara yang tenang namun sarat makna, ia mengajak seluruh masyarakat menjadikan Idulfitri sebagai momentum kembali kepada fitrah—memperkuat keimanan, mempererat persaudaraan, serta menumbuhkan kepedulian sosial.
Namun, yang membuat suasana berubah menjadi begitu emosional adalah ketika ia mulai mengulas perjalanan satu tahun kepemimpinannya bersama Wakil Bupati. 
Pidato yang Mengalir dari Hati, Menyentuh Ribuan Jemaah
Bupati H.Syaharuddin tak sekadar memaparkan capaian. Ia menyampaikan setiap keberhasilan dengan nada penuh rasa syukur dan kerendahan hati.
Ketika menyebut berbagai capaian—mulai dari peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menjadi 75,49 poin, pertumbuhan ekonomi mencapai 7,71 persen tertinggi di Sulawesi Selatan, hingga penurunan angka kemiskinan menjadi 4,91 persen—suasana mulai terasa berbeda.
Ribuan jemaah terdiam. Mereka bukan hanya mendengar angka, tetapi merasakan dampaknya dalam kehidupan nyata.
Begitu pula saat ia menguraikan keberhasilan sektor pertanian dan peternakan—produksi padi, jagung, hingga telur yang meningkat signifikan—warga yang mayoritas petani dan peternak tampak mengangguk, seakan menjadi saksi hidup dari perubahan itu sendiri.
Air Mata yang Tak Terbendung
Puncak haru terjadi ketika Syaharuddin menyampaikan refleksi pribadinya. Suaranya sempat bergetar, bahkan beberapa kali terhenti.
Ia tak mampu menyembunyikan rasa emosinya saat menyadari bahwa Sidrap kini telah bangkit dan mendapat pengakuan luas, baik di tingkat provinsi maupun nasional.
Air mata yang mengalir bukan hanya dari dirinya, tetapi juga dari sebagian jemaah yang hadir. Banyak di antara mereka yang tampak menyeka mata, larut dalam suasana yang begitu menyentuh.
Momen ini menjadi gambaran kuat bahwa hubungan antara pemimpin dan masyarakat Sidrap tidak lagi sekadar administratif, tetapi telah menjelma menjadi ikatan emosional yang dalam.

Kepemimpinan “Saromase”, Mengangkat Derajat Rakyat
Dalam pidatonya, Syaharuddin juga menegaskan komitmen pemerintah untuk terus menghadirkan program pembangunan yang berpihak kepada masyarakat.
Mulai dari penguatan sektor pertanian dan peternakan, peningkatan layanan kesehatan dengan cakupan BPJS mencapai 99 persen, hingga perbaikan infrastruktur jalan dan irigasi demi mendukung produktivitas petani.
Ia juga menegaskan visi besar Sidrap sebagai lumbung beras, lumbung telur, hingga pusat energi terbarukan di Indonesia.
Namun lebih dari itu, yang paling terasa adalah nilai “Saromase” yang melekat kuat dalam kepemimpinannya—jiwa sosial yang tinggi, kepedulian tanpa batas, serta tekad untuk meninggikan derajat masyarakatnya.
“Pembangunan tidak ada artinya jika masyarakat tidak merasakan manfaatnya,” menjadi pesan tersirat yang kuat dalam setiap bagian pidatonya.
Seruan Persatuan dan Masa Depan Sidrap
Menutup sambutannya, Syaharuddin mengajak seluruh masyarakat untuk tidak berhenti pada semangat Ramadan.
Ia mengingatkan pentingnya menjaga persatuan, bekerja keras, dan terus memperbaiki kualitas hidup, baik dari sisi ekonomi, pendidikan, maupun keimanan.
Dengan semangat “Sidrap Berkah, Bercahaya, Bersih, Aman, Religius, Maju dan Sejahtera”, ia optimistis masa depan daerah ini akan semakin gemilang.
Di bawah langit Stadion Ganggawa pagi itu, pidato tersebut bukan sekadar sambutan Idulfitri. Ia menjadi refleksi perjalanan, ungkapan cinta, sekaligus janji seorang pemimpin kepada rakyatnya.
Dan di antara takbir yang bergema, air mata yang jatuh menjadi saksi—bahwa Sidrap sedang bergerak, tumbuh, dan bangkit bersama. (Arya)









Tinggalkan Balasan