BRI Life atau BRI Lie? Skema Arisan Berbungkus Asuransi yang Diduga Bikin Nasabah Gigit Jari
PINRANG — Di negeri yang katanya gemar gotong royong dan semboyan “melayani dengan sepenuh hati”, kisah pahit dari nasabah BRI Unit Teppo, Kabupaten Pinrang, justru menyuguhkan ironi pahit: janji manis jadi dusta, tabungan berubah jadi trauma.
Bayangkan—berbulan-bulan dipotong saldo rekening, dengan harapan kelak akan cair utuh, bahkan lebih. Tapi setelah 60 bulan penuh pengharapan dan kepercayaan, yang datang bukan ucapan “selamat pencairan”, melainkan saldo yang “disunat”, dan janji yang mendadak amnesia.
Skema Arisan atau Skema Tipu-Tipu?
Modusnya sederhana, tapi mencengangkan: program BRI Life dibungkus dengan narasi arisan, lengkap dengan jargon “uang tetap aman dan cair utuh.” Seolah-olah ini jalan ninja bagi rakyat kecil untuk menabung masa depan, bahkan sampai berangkat umrah.
Namun faktanya, saat nasabah seperti Raman dan lainnya hendak mencairkan dana—hasil pemotongan bulanan selama 5 tahun—angka yang cair tak sesuai hitungan. Potensi dana Rp 60 juta, katanya, hanya bisa cair Rp 40 juta. Uang Rp 18 juta, tinggal Rp 13 juta. Sisanya entah ke mana, ikut menguap bersama integritas pelayanan.
“Kasihan, Kami Bukan Nasabah. Kami Korban.”
Rasanya lebih menyakitkan bukan hanya karena uang tak kembali utuh, tapi karena kepercayaan telah dipermainkan. Nasabah tak minta untung besar, mereka hanya ingin apa yang dijanjikan: uang kembali, sesuai potongan, tanpa drama.
Tapi yang diterima? Jawaban yang kabur, alasan yang kabur, dan petugas yang tiba-tiba kehilangan kenangan akan janjinya sendiri.
“Bukannya tidak bersyukur, tapi kecewa, karena dari Rp 18 juta, hanya Rp 13 juta yang cair,” ujar salah satu korban. Kalimat itu mungkin terdengar ringan di telinga manajemen bank, tapi bagi rakyat kecil, selisih Rp 5 juta bisa jadi biaya sekolah anak, modal usaha, atau bahkan mimpi naik haji.
Reputasi Terluka, Hati Rakyat Teriris
Masalah ini bukan sekadar nominal. Ini soal nama besar BUMN yang mestinya jadi tumpuan rakyat, tapi justru membuat luka. Ketika bank milik negara ikut ‘menari’ dalam ketidakjelasan janji, maka bukan hanya citra yang tercoreng, tapi juga harapan masyarakat terhadap lembaga keuangan yang mereka kira aman.
“Awalnya percaya karena ini bank BUMN. Tapi ternyata, malah begini caranya,” tutur Raman dengan getir.
Lalu Siapa Bertanggung Jawab?
Yang ditunggu kini bukan sekadar klarifikasi. Tapi tindakan nyata. Investigasi internal. Pengembalian dana. Transparansi total. Kalau ada oknum, ungkap namanya. Kalau ada kesalahan sistem, benahi secara terbuka. Jangan biarkan kasus ini membusuk di meja pengaduan yang hanya dijawab dengan kalimat template: “Kami akan menindaklanjuti keluhan Anda.”
Catatan Penutup: Tabungan Rakyat Bukan Celengan Mainan
Apa yang terjadi di BRI Unit Teppo adalah tamparan keras: bahwa edukasi keuangan masih lemah, dan perlindungan konsumen masih ompong. Ini bukan soal benci pada BRI, tapi cinta yang dikhianati. Warga hanya ingin satu hal: hak mereka kembali, dan keadilan ditegakkan.
Jika tak segera ditangani serius, maka skandal ini bisa tumbuh jadi krisis kepercayaan. Dan percayalah, bank tanpa kepercayaan, sama saja seperti rekening tanpa saldo. Kosong. (Ady)
Tinggalkan Balasan