BARRU, HBK – Pasca kejadian penikaman sopir truk asal Sidrap yang terjadi di Jalan poros Makassar-Barru terus mendapat perhatian serius aparat setempat.

Untuk sementara sesuai hasil keterangan sejumlah saksi mata menyebutkan  jika motif pemicu insiden berdarah itu hanya dipicu karena emosi sesaat, sehingga nyawa melayang sia-sia.

Adalah Mus Gustiranda (34), sopir truk asal Kabupaten Sidrap, terpaksa meregang nyawa secara mengenaskan usai ditikam pria berinisial BR (56), tepatnya di wilayah Butung, Kabupaten Barru, Selasa (31/3/2026) sekitar pukul 15.00 WITA.

Tragedi berdarah ini sontak menggegerkan warga. Siapa sangka, peristiwa maut itu dipicu hal yang terbilang sepele—hanya cekcok di jalan.

Berdasarkan hasil penyelidikan polisi, korban dan pelaku sama sekali tidak memiliki hubungan keluarga, kerabat atau teman dan tidak saling mengenal.

Insiden ini murni dipicu emosi spontan yang tak terkendali.

Peristiwa bermula saat korban mengemudikan truk Hino dan terlibat perselisihan dengan pelaku yang mengendarai mobil pribadi. Adu mulut pun tak terhindarkan di tengah jalan.

Namun situasi dengan cepat berubah menjadi tragedi. Dalam kondisi tersulut emosi, pelaku nekat menghunus senjata tajam dan menikam korban secara brutal hingga tewas di lokasi kejadian.

“Ini murni karena permasalahan di jalan. Spontan, tidak saling kenal,” tegas Kasat Reskrim Polres Barru, AKP Akbar Sirajuddin, Rabu (1/4/2026).

Usai melakukan aksinya, pelaku sempat melarikan diri untuk menghindari kejaran aparat. Namun upaya tersebut tak berlangsung lama.

Tim Reskrim Polres Barru bergerak cepat melakukan pengejaran intensif. Dalam waktu kurang dari 1×24 jam, pelaku akhirnya berhasil dibekuk di kediamannya di wilayah Parepare.

“Pelaku sudah diamankan tadi malam di Parepare,” ungkap Akbar.

Kini, pelaku telah mendekam di balik jeruji besi dan menjalani proses hukum lebih lanjut.

Kasus ini menjadi tamparan keras bagi semua pengguna jalan. Emosi yang tak terkendali, meski dipicu persoalan sepele, bisa berubah menjadi petaka yang merenggut nyawa.

Jalan raya bukan arena adu emosi—satu detik hilang kendali, nyawa jadi taruhan. (Aril)