
SIDRAP, HBK — Di tengah suasana hangat Idulfitri 1447 Hijriah, sebuah kisah sederhana namun menyentuh hati hadir dari Kabupaten Sidrap, Jumat (20/04/2026).
Sosok Kapolres Sidrap, AKBP Dr. Fantry Taherong,SH,SIK,MH menunjukkan wajah humanis kepemimpinan dengan mengundang seorang tunawisma bernama Abidin ke rumah jabatannya.
Abidin (58), yang selama ini hidup sebatang kara dan menetap di sekitar Jalan Andi Haseng, Kelurahan Pangkajene, Kecamatan Maritengngae, tak pernah membayangkan dirinya akan merasakan suasana momentum Lebaran di rumah seorang pejabat.
Abidin dikenal sebagai penyandang tunawisma, ia tak lagi memiliki penglihatan, dan ia lumpuh sejak masih muda.
Namun hari itu menjadi berbeda. Wajahnya yang biasanya tampak lelah, berubah menjadi penuh kebahagiaan.

Dari Jalanan ke Rumah Jabatan, Sebuah Perjalanan Penuh Makna
Momen haru itu terjadi saat bpk Abidin dijemput langsung. Dalam video yang direkam oleh staf jajaran Polres Sidrap, terlihat Kapolres dengan penuh kepedulian membopong Abidin untuk naik ke kendaraan (bemor) yang akan membawanya pulang setelah memenuhi undangan Kapolres di rumah jabatan, Jumat (20/4/2026).
Gestur sederhana itu menjadi simbol kuat: bahwa kemanusiaan tidak mengenal jabatan, dan kepedulian tidak mengenal batas status sosial.
Tak ada jarak antara seorang perwira polisi berpangkat AKBP dengan seorang tunawisma. Yang terlihat hanyalah hubungan antar sesama manusia. 
Lebaran yang Mengembalikan Martabat
Setibanya di rumah jabatan, suasana berubah menjadi hangat dan penuh kekeluargaan.
Abidin disambut layaknya tamu kehormatan. Ia diajak berbincang, diberikan uang dbalut amplop dinas Kapolres, dan merasakan kebersamaan yang mungkin sudah lama tak ia rasakan.
Idulfitri, yang sejatinya adalah momen kembali ke fitrah, seolah menemukan maknanya yang paling nyata dalam peristiwa ini.
Bagi Abidin, ini bukan sekadar undangan biasa. Ini adalah pengakuan bahwa dirinya masih dihargai, masih dianggap, dan masih menjadi bagian dari masyarakat.
Keteladanan yang Mengalir dari Hati
Apa yang dilakukan AKBP Dr. Fantry Taherong bukan sekadar aksi spontan, melainkan cerminan nilai kemanusiaan yang mendalam.
Di tengah hiruk-pikuk tugas kepolisian, ia menunjukkan bahwa empati tetap menjadi fondasi utama dalam mengabdi.
Tindakan membopong Abidin bukan hanya membantu secara fisik, tetapi juga mengangkat martabat seorang manusia yang selama ini hidup di pinggiran. 
Pesan Sunyi dari Sebuah Kepedulian
Kisah ini menyebar cepat di tengah masyarakat. Banyak yang terharu, bahkan tak sedikit yang meneteskan air mata saat menyaksikan video tersebut.
Di balik kesederhanaannya, tersimpan pesan yang kuat: bahwa kebaikan tidak harus besar untuk berarti.
Cukup tulus, dan dilakukan pada waktu yang tepat.
Idulfitri di Sidrap tahun ini bukan hanya tentang gema takbir dan pakaian baru. Ia juga tentang kepedulian, tentang merangkul yang lemah, dan tentang menghadirkan kebahagiaan bagi mereka yang kerap terlupakan.
Dan di hari kemenangan itu, seorang tunawisma bernama Abidin kembali merasakan—bahwa dirinya tidak sendiri. (Arya)









Tinggalkan Balasan