SIDRAP, HBK – Event Grand Final Sulawesi Cup Race (SCR) Round 5 yang digelar di Sirkuit Puncak Mario, Kabupaten Sidrap, 17–18 Januari 2026, menuai apresiasi luar biasa dari tokoh masyarakat dan pecinta balap motor Road Race se-Sulawesi Selatan.
Kesuksesan event ini sekaligus membuka diskursus serius soal ketimpangan infrastruktur sirkuit balap di daerah lain, khususnya Kabupaten Pinrang yang selama ini dikenal sebagai “lumbung pembalap nasional” (20/01/2026).
Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Sulawesi Selatan, H. Rusdi Masse, bersama Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif, mendapat pujian luas atas komitmen dan keberanian menghadirkan event balap berskala nasional.
Sirkuit Puncak Mario dinilai sebagai sirkuit permanen berstandar nasional terbaik di Sulsel, dengan karakter lintasan teknis dan menantang adrenalin para pembalap.
Salah satu tokoh pecinta Road Race asal Makassar, Lindong, menyebut keberhasilan Sidrap sebagai tamparan halus bagi daerah lain yang selama ini hanya bangga pada sejarah tanpa keberanian membangun masa depan.
“Ini luar biasa. Sidrap membuktikan bahwa daerah bisa menjadi pusat event nasional jika punya visi dan keberpihakan pada dunia otomotif. Puncak Mario adalah standar baru,” tegas Lindong. 
Ia secara terbuka mendorong daerah-daerah yang memiliki sejarah panjang pembalap, seperti Pinrang, Parepare, dan Enrekang, agar tidak terus bergantung pada sirkuit daerah lain.
“Kalau mau bicara pembinaan atlet, maka sirkuit permanen adalah harga mati.
Pinrang itu gudang pembalap, tapi ironisnya belum punya sirkuit nasional,” tambahnya.
Nada serupa disampaikan D. Irawan, mantan pembalap Road Race asal Palopo.
Ia bahkan menyebut Kabupaten Pinrang sebagai daerah paling layak dan siap membangun sirkuit nasional kedua di Sulawesi Selatan setelah Sidrap.
“Pinrang dulu sangat disegani. Pembalap-pembalapnya menembus level nasional, dan sampai hari ini masih ada rider asal Pinrang yang tampil di SCR dengan kontrak sponsor besar. Tapi mereka berjuang tanpa rumah sendiri,” ujar Irawan.
Menurutnya, ketidakhadiran sirkuit permanen di Pinrang bukan sekadar persoalan olahraga, melainkan kehilangan peluang besar ekonomi, pariwisata, dan regenerasi atlet.
“Kalau Pinrang serius, SCR sangat layak digelar di sana tahun-tahun berikutnya.
Tinggal kemauan politik dan keberanian mengambil keputusan,” tegasnya.
Kesuksesan Grand Final SCR di Sidrap kini menjadi cermin keras bagi daerah lain.
Publik otomotif Sulsel menilai, tanpa sirkuit permanen, daerah seperti Pinrang hanya akan terus menjadi penonton dari kejayaan yang dulu mereka ciptakan sendiri (Arya)




Tinggalkan Balasan