SIDRAP, HBK — Pemerintah Kabupaten Sidrap mencatat capaian gemilang di sektor pertanian tahun 2025. Tidak salah gelar baru kini dijuluki bumi Nene Mallomo yakni Produksi Beras Naik 24 Persen atau “Soaring to Become a New Food Barn”.
Berdasarkan data Dinas Pertanian setempat, produksi gabah kering giling (GKG) meningkat signifikan menjadi 556.362 ton, naik dari 447.856 ton pada tahun 2024.
Artinya, terjadi lonjakan sebesar 108.506 ton atau naik 24,23 persen dalam satu tahun terakhir.
Jika dikonversi ke bentuk beras, Sidrap kini menghasilkan sekitar 319.261 ton beras, meningkat tajam dari 256.996 ton pada tahun sebelumnya.
Angka ini menempatkan Sidrap sebagai kabupaten dengan kenaikan produksi tertinggi ketiga di Sulawesi Selatan, setelah Bone dan Wajo.
Bupati Sidrap H. Syaharuddin Alrif menyebut capaian tersebut merupakan hasil nyata dari program intensifikasi pertanian yang digagasnya sejak dua tahun terakhir, melalui penerapan sistem IP 300 — program tanam padi tiga kali setahun di lahan produktif.
“Ini adalah wajah baru pertanian Sidrap. Pertanian adalah sektor utama, dan tidak ada alasan bagi pemerintah untuk tidak memajukannya,” ujar Syaharuddin di Pangkajene, Kamis (6/11/2025). 
Program IP 300 dijalankan di atas lahan produktif seluas 52.227 hektar di seluruh wilayah Sidrap.
Dengan manajemen irigasi yang lebih baik, penggunaan varietas unggul, serta dukungan teknologi modern, para petani kini mampu memaksimalkan potensi lahan hingga tiga kali masa tanam dalam setahun.
Menurut Kepala Dinas Pertanian Sidrap Ir. Andi Muhammad Faisal, peningkatan produksi tahun ini tidak lepas dari perhatian besar pemerintah daerah terhadap sistem irigasi dan akses pupuk bersubsidi.
“Bupati memberi perhatian besar pada sistem irigasi teknis dan non-teknis. Kita juga dorong kelompok tani agar lebih mandiri dalam pengelolaan air dan pemupukan,” ungkap Faisal.
Selain memperkuat infrastruktur pertanian, Bupati Syaharuddin juga aktif menjalin kerja sama dengan pemerintah provinsi dan pusat.
Dalam dua tahun terakhir, ia beberapa kali bertemu dengan Menteri Pertanian untuk memperjuangkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), benih unggul, serta program peremajaan lahan.
“Sidrap ini lumbung padi Sulawesi. Kita punya tanah yang subur dan petani yang tangguh. Tugas pemerintah adalah memastikan mereka mendapat dukungan maksimal, mulai dari benih, pupuk, hingga teknologi,” tambahnya.
Tren peningkatan produksi ini menjadi titik balik bagi Sidrap setelah mengalami fluktuasi beberapa tahun terakhir.
Pada 2019 produksi mencapai 515.011 ton GKG, turun di masa pandemi 2020 menjadi 443.800 ton, lalu berangsur naik hingga mencetak rekor tertinggi tahun ini.
Lonjakan produksi paling besar berasal dari kecamatan Watangpulu, Pitu Riawa, Baranti, dan Tellu Limpoe, yang kini menjadi model penerapan teknologi pertanian presisi dan pelatihan petani milenial.
“Pertanian bukan hanya sektor lama yang kita rawat karena nostalgia, tapi sektor masa depan. Anak-anak muda Sidrap harus melihat bahwa bertani juga bisa modern, bisa menguntungkan,” tegas Syaharuddin.
Pemerintah Kabupaten Sidrap kini juga tengah mengembangkan sistem pascapanen dan rantai pasok untuk menciptakan nilai tambah ekonomi bagi petani.
“Petani tidak boleh berhenti di panen. Mereka harus sampai ke tahap nilai tambah, penggilingan, dan pemasaran. Kita ingin Sidrap punya brand beras sendiri,” tutur Faisal.
Keberhasilan ini disambut antusias oleh para petani. Salah satunya, Abdul Rahman, petani asal Desa Mojong, mengaku hasil panennya meningkat hampir 30 persen dibanding tahun lalu.
“Dulu kita cuma tanam dua kali. Sekarang bisa tiga kali setahun. Air cukup, pupuk lancar, dan hasilnya bagus,” katanya.
Dengan capaian tersebut, Sidrap kini menegaskan kembali posisinya sebagai salah satu sentra padi terbesar di Indonesia Timur, sekaligus menandai era kebangkitan baru pertanian Sidrap di bawah kepemimpinan H. Syaharuddin Alrif.
“Sidrap tidak hanya tumbuh dari padi, tapi juga dari semangat petaninya,” tutup Syaharuddin. (Arya)









Tinggalkan Balasan